Radar Pasuruan - Krisis ketersediaan air bersih kini masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah di Aceh.
Salah satunya dialami warga Kampung Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
Memasuki dua bulan setelah banjir, warga desa tersebut masih kesulitan memperoleh akses air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Situasi ini mendorong warga untuk berinisiatif secara mandiri agar air dapat dialirkan ke wilayah tempat tinggal mereka.
Hal tersebut terungkap dari unggahan video akun Instagram @serta_lia_gali yang memperlihatkan warga Desa Jamat bergotong royong demi mendapatkan air bersih.
“Kami disibukkan dengan gotong royong seperti hari ini, hari ke-61 pascabencana, kami masih berjuang mencari sumber air untuk dapat menetes ke rumah kami,” tulis keterangan unggahan, dikutip pada Jumat, 30 Januari 2026.
Diketahui, kegiatan gotong royong tersebut dilakukan pada Kamis, Rabu, 28 Januari 2026 lalu.
“Pipa air yang hari ini kami masih pasang bersifat darurat lantaran masih banyak kekurangan,” tambahnya.
Dalam rekaman video, terlihat sejumlah warga memanggul pipa panjang serta tali sling hingga menuju bagian tengah sungai yang tengah mengering.
Terungkap bahwa sebelumnya pipa air sebenarnya sudah terpasang, namun kerap hanyut ketika debit sungai meningkat.
“Pipa yang sudah terpasang rentan sekali terbawa arus sungai. Jika air naik sedikit saja, pipa langsung terbawa arus sungai karena pipa yang melewati sungai terpasang tanpa tiang penyangga,” imbuhnya.
Meski Pemerintah Provinsi Aceh telah menetapkan masa transisi darurat ke pemulihan selama 90 hari mulai 29 Januari 2026 hingga 29 April 2026, Kabupaten Aceh Tengah hingga kini masih berada dalam status tanggap darurat.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, memutuskan untuk memperpanjang masa tanggap darurat mulai 30 Januari 2026 sampai 5 Februari 2026.
Kebijakan tersebut diambil lantaran masih terdapat lima desa di Kecamatan Linge dan tiga desa di Kecamatan Ketol yang terisolir.
Menurut Haili, delapan desa tersebut masih terputus aksesnya akibat longsoran jalan dan jembatan yang belum sepenuhnya dapat dilalui kendaraan, sehingga distribusi bantuan masih mengandalkan jalur udara.
Editor : Moch Vikry Romadhoni