Radar Pasuruan - Masalah debu di Kabupaten Aceh Tamiang kian menjadi perhatian serius warga. Lumpur sisa banjir yang belum sepenuhnya dibersihkan kini mulai mengering, memicu debu beterbangan saat aktivitas berlangsung, terutama ketika kendaraan melintas di jalan raya.
Situasi tersebut semakin disorot setelah sebuah video beredar di media sosial, memperlihatkan pekatnya debu yang menyelimuti kawasan permukiman warga saat sebuah helikopter mendarat.
Video itu diunggah akun Instagram @berita_aceh_tamiang_offical pada Kamis, 29 Januari 2026.
“Helikopter turun, jadi gelap debunya sampai kayak begitu,” ujar seorang warga dalam video tersebut.
Dalam rekaman itu, kondisi yang semula terang mendadak berubah menjadi gelap akibat debu yang beterbangan seiring suara baling-baling helikopter. Beberapa anggota Brimob yang berada di lokasi tampak berlarian untuk menghindari paparan debu.
Pekatnya debu di Aceh Tamiang diperparah oleh cuaca kering karena hujan belum turun selama beberapa hari terakhir. Warganet menggambarkan kondisi ekstrem tersebut lewat keterangan, “Kondisi saat ini di Tamiang. Hujan jadi Kuala Lumpur, panas jadi padang pasir.”
Keluhan warga pun bermunculan di kolom komentar. Sebagian menyebut penyiraman jalan berisiko memicu kecelakaan karena jalanan menjadi licin, sementara debu terus mengancam kesehatan.
Menanggapi situasi pascabencana ini, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan pemerintah pusat terus mempercepat pembersihan lumpur di Aceh Tamiang.
Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi Sumatera pada 26 Januari 2026.
Tito menjelaskan, Aceh Tamiang yang berada di wilayah dataran rendah menjadi salah satu daerah dengan dampak terparah akibat banjir bandang dan tanah longsor.
Selain Aceh Tamiang, wilayah lain yang juga mengalami persoalan serupa antara lain Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya.
Untuk mempercepat penanganan, pemerintah pusat mengerahkan hampir 10.000 personel gabungan dari berbagai institusi. Di antaranya 1.132 Praja IPDN, 500 mahasiswa Politeknik Statistika STIS, 600 taruna Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, sekitar 2.000 personel TNI, serta 1.000 personel Polri.
Selain itu, personel dari program Latsitardanus yang melibatkan taruna Akmil, AAL, AAU, Unhan, Akpol, hingga Politeknik Siber dan Sandi Negara juga diturunkan dengan total 1.788 personel.
“Jadi kekuatan di Tamiang itu mungkin mendekati TNI-Polri-nya hampir 10.000 di sana. Karena memang paling banyak kolam yang terdampak lumpur,” kata Tito.
Pembersihan lumpur difokuskan pada pemulihan fasilitas umum, mulai dari kantor pemerintahan, sekolah, pasar, hingga permukiman warga agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.
Editor : Moch Vikry Romadhoni