Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Detik-detik Banjir Pemalang Mengamuk, Warga Dengar Suara Gemuruh Seperti Bom

Moch Vikry Romadhoni • Rabu, 28 Januari 2026 | 15:53 WIB

 

Cerita warga Desa Penakir, Pemalang saat banjir datang menerjang permukiman.
Cerita warga Desa Penakir, Pemalang saat banjir datang menerjang permukiman.

Radar Pasuruan - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, meninggalkan luka psikologis mendalam bagi warga setempat.

Banjir mulai memasuki permukiman pada Jumat petang, 23 Januari 2026, dan mencapai kondisi terparah pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, sekitar pukul 02.00 WIB.

Momen menegangkan saat banjir terjadi diungkap oleh seorang warga melalui unggahan video di akun Instagram @rinna_125 pada Rabu, 28 Januari 2026.

Dalam rekaman tersebut terlihat suasana panik warga desa yang saling berteriak memperingatkan satu sama lain agar segera menyelamatkan diri dan keluar dari rumah.

Video yang diunggah memperlihatkan kondisi Desa Penakir yang gelap gulita akibat listrik padam, disertai hujan deras dan angin kencang.

“Malam itu kami sedang berkumpul di dapur, sekitar jam 5 sore lebih, pas pertama kali terdengar suara gemuruh dari belakang rumah tapi tidak begitu besar, bapak dan kakak-kakakku lari ke sungai untuk mengecek banjir, katanya masih bisa aman,” ungkap pemilik akun, dikutip dari keterangan pada unggahannya.

Namun, sekitar pukul 18.00 WIB, suara gemuruh kembali terdengar dengan intensitas lebih kuat dari sebelumnya.

“Ternyata benar, banjir yang sangat besar datang dan menghantam jembatan seperti suara bom yang diledakkan dan banjir meluap ke jalanan,” imbuhnya.

Baca Juga: Longsor Cisarua Telan 23 Prajurit Marinir, KSAL Ungkap Mereka Sedang Latihan Pratugas

Saat bencana terjadi, hujan deras mengguyur wilayah tersebut dan aliran listrik padam total.

“Malam yang sangat menakutkan, malam dan hari yang benar-benar membuat trauma seumur hidup, hujan yang sangat deras dan angin yang sangat kencang. Listrik mati, kami berlari ke bawah ke arah Desa Krajan, di sana aku dan keluargaku mengungsi di rumah uwa,” sambungnya.

Meski sudah berada di lokasi pengungsian yang relatif aman, warga diminta tetap waspada dan tidak tertidur lelap untuk mengantisipasi banjir susulan.

“Jam 2 malam, aku dapet berita bahwa rumahku dan rumah keluargaku, rumah yang deket sama sungai udah keseret banjir semuanya,” tuturnya.

Dalam unggahan lainnya, warga tersebut mengaku masih merasakan trauma mendalam, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

“Trauma itu nyata!! Masih teringat jelas teriakan-teriakan pada malam itu di telinga, Keluargaku dan tetangga-tetanggaku berlarian menyelamatkan diri dari banjir yang begitu besar, hujan dan angin yang begitu kencang Ya Allah,” ungkapnya.

“Sekarang, mendengar hujan lebat atau melihat keadaan di desa benar-benar tidak mau, takut, takut terjadi banjir seperti yang sudah terjadi. Setrauma itu Ya Allah,” tukasnya.

Sementara itu, data dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat sebanyak 8 unit rumah hanyut, 18 rumah mengalami kerusakan berat, dan 24 rumah rusak sedang akibat bencana tersebut.

Adapun jumlah warga terdampak mencapai 252 kepala keluarga atau sekitar 911 jiwa. Pemerintah Kabupaten Pemalang telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, terhitung sejak 24 Januari hingga 6 Februari 2026.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#longsor #desa penakir #banjir