Fenomena “Tenggo” sejatinya sudah lama dikenal di lingkungan kerja. Namun, ketika diadopsi oleh Gen Z, istilah ini menjelma menjadi simbol budaya baru yang mengandung pesan sikap dan nilai.
Jika pada masa lalu pulang sesuai jam kerja kerap dicap sebagai minim dedikasi, bagi Gen Z, Tenggo singkatan dari Begitu teng, langsung go justru mencerminkan kepedulian terhadap kesehatan mental sekaligus efisiensi kerja.
Mengapa Budaya Tenggo Kini Semakin Populer?
Terjadi perubahan sudut pandang yang cukup kontras antara generasi sebelumnya dan Gen Z dalam memaknai pekerjaan. Beberapa faktor utama yang memicunya antara lain:
Pertama, work-life balance menjadi prioritas utama. Bagi Gen Z, pekerjaan bukan pusat kehidupan. Waktu di luar jam kerja dimanfaatkan untuk beristirahat, menyalurkan hobi, hingga bersosialisasi demi menjaga keseimbangan mental.
Kedua, mengedepankan hasil dibanding formalitas. Gen Z lebih fokus pada capaian kerja. Ketika tugas telah rampung sesuai target sebelum jam pulang, mereka tidak melihat urgensi untuk bertahan di kantor hanya demi citra rajin.
Ketiga, respons terhadap budaya hustle. Menyaksikan banyak generasi sebelumnya mengalami kelelahan akibat glorifikasi lembur, Gen Z memilih pendekatan yang lebih sehat dan menolak kelelahan sebagai simbol keberhasilan.
Meski tampak sederhana, penerapan budaya Tenggo tidak selalu berjalan mulus, terutama di lingkungan kerja yang masih memegang pola lama. Di satu sisi, Tenggo membantu mencegah kelelahan, meningkatkan manajemen waktu, serta memperbaiki kualitas hidup. Namun di sisi lain, kebiasaan ini kerap disalahartikan sebagai kurang loyal, tidak fleksibel, atau enggan berkorban
Agar tidak berdampak buruk pada karier, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Target kerja harus dipastikan tercapai, komunikasi dengan tim dilakukan secara terbuka, serta kualitas hasil kerja ditunjukkan secara konsisten.
Editor : Moch Vikry Romadhoni