Radar Pasuruan - Kondisi pemenuhan gizi anak-anak di wilayah terdampak banjir bandang di Sumatera dinilai masih luput dari perhatian. Di tengah keterbatasan fasilitas dan distribusi bantuan, warga justru lebih banyak menerima makanan siap saji yang tidak dirancang untuk mencukupi kebutuhan gizi anak, terutama balita.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, yang turun langsung ke Aceh Tamiang, menyebut persoalan bantuan pangan yang tidak ramah anak masih menjadi tantangan serius.
Ia mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak-anak di wilayah terdampak.
"Kami melihat langsung di Aceh Tamiang, bantuan yang banyak datang itu mie instan dan makanan praktis lain. Kalau itu terus-menerus dikonsumsi, tentu kurang sehat untuk anak-anak," kata Budi Setiawan dalam keterangannya, Jumat (23/1).
Menurut Budi, sebagian besar bantuan yang masuk masih bersifat seragam. Makanan yang diberikan kepada orang dewasa disamakan dengan balita, tanpa mempertimbangkan perbedaan kebutuhan gizi, terutama bagi anak-anak usia dini yang belum bersekolah.
Pantauan di media sosial juga menunjukkan bantuan pangan yang disalurkan ke lokasi bencana didominasi produk instan seperti mi instan dan kental manis yang memiliki daya simpan panjang.
Padahal, produk-produk tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Terlebih, kental manis memiliki kandungan gula tinggi dan nilai gizi yang rendah.
Penggunaan kental manis sebagai bantuan pangan juga berisiko memperkuat kesalahpahaman di masyarakat, seolah-olah produk tersebut setara dengan susu.
Faktanya, kandungan susu di dalamnya sangat minim dan berpotensi memicu gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan gigi hingga peningkatan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes.
"Untuk balita yang belum sekolah, ini jadi lebih repot. Mereka belum banyak mendapat perhatian, sementara yang datang justru makanan instan," kata Budi.
Kondisi tersebut diperburuk dengan minimnya logistik dasar seperti kompor, tabung gas, dan peralatan memasak. Keterbatasan ini membuat warga tidak memiliki alternatif selain mengonsumsi makanan siap saji.
"Kalau mereka sudah punya tempat tinggal sementara dan alat masak, orang tua pasti akan memilihkan makanan yang lebih baik untuk anaknya. Masalahnya, alat-alat itu belum tersedia," jelas Budi.
Sebagai upaya mengatasi kondisi tersebut, MDMC berupaya mendirikan pos pelayanan dengan pemisahan kelompok penerima bantuan, mulai dari balita, lansia, hingga kelompok rentan lainnya. Pendataan dilakukan secara khusus agar bantuan yang diberikan lebih sesuai kebutuhan.
"Kami selalu mendata berapa balita, berapa lansia, berapa dewasa. Dari situ kami upayakan dapur balita dan layanan khusus, tapi jujur belum bisa menjangkau semuanya," ujarnya.
Budi berharap ke depan kualitas bantuan pangan dapat lebih diperhatikan, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi juga kecukupan gizi, khususnya bagi kelompok rentan seperti balita.
Editor : Moch Vikry Romadhoni