Radar Pasuruan - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menilai peluang dunia untuk menghindari perang global berskala besar semakin menipis seiring meningkatnya ketegangan geopolitik internasional.
Melalui catatan panjang di akun X pribadinya, SBY mengungkapkan bahwa indikasi menuju konflik besar kini kian sering terlihat dan tidak dapat lagi diabaikan. Ia menyampaikan pandangan tersebut setelah mencermati perkembangan situasi global selama beberapa tahun terakhir, khususnya dalam beberapa bulan terakhir yang dinilainya semakin mengkhawatirkan.
Sebagai tokoh yang lama berkecimpung dalam isu geopolitik, perdamaian, dan keamanan internasional, SBY menilai dunia tengah memasuki fase yang sangat berisiko bagi keberlangsungan umat manusia.
“Day by day, ruang dan waktu untuk mencegah terjadinya perang dunia menjadi semakin sempit,” ujar SBY. Ia menyebut kondisi global saat ini memiliki kemiripan dengan situasi menjelang Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua.
Menurutnya, kesamaan tersebut tampak dari kemunculan pemimpin-pemimpin kuat dengan kecenderungan agresif, terbentuknya blok-blok kekuatan negara yang saling berhadapan, serta meningkatnya perlombaan penguatan militer secara masif.
Selain itu, persiapan ekonomi dan industri pertahanan juga semakin intensif, yang berpotensi memperbesar risiko pecahnya konflik terbuka antarnegara.
SBY menekankan bahwa sejarah menunjukkan perang besar jarang terjadi secara tiba-tiba. Konflik global biasanya diawali oleh rangkaian ketegangan yang terus dibiarkan tanpa upaya pencegahan yang serius dan konsisten.
Ia mengingatkan bahwa dunia pernah gagal membaca tanda-tanda tersebut pada awal abad ke-20, yang berujung pada kehancuran besar dan korban jiwa dalam jumlah luar biasa. Di era modern, menurutnya, dampak perang dunia akan jauh lebih dahsyat.
SBY mengutip sejumlah kajian yang memperkirakan bahwa jika perang global melibatkan senjata nuklir, jumlah korban jiwa dapat melampaui 5 miliar orang, disertai kehancuran peradaban dan hilangnya harapan umat manusia.
Meski demikian, SBY menegaskan bahwa peluang untuk mencegah bencana global masih ada, meski waktunya semakin terbatas. Ia menilai doa dan seruan moral saja tidak cukup tanpa langkah nyata dari para pemimpin dunia dan lembaga internasional.
SBY mengingatkan bahwa sikap diam dan pembiaran justru akan mempercepat terjadinya kehancuran global. Karena itu, ia mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil peran aktif, termasuk menggelar Sidang Umum Darurat PBB.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang bagi para pemimpin dunia untuk menyepakati langkah konkret dalam meredam krisis global, termasuk ancaman perang dunia baru.
SBY mengakui PBB kerap dinilai kurang efektif dalam menghadapi konflik internasional. Namun, ia menegaskan bahwa tidak bertindak sama sekali akan menjadi kesalahan sejarah yang sulit dimaafkan.
“Jika ada kehendak, pasti ada jalan,” kata SBY, menutup pesannya dengan keyakinan bahwa dunia masih memiliki kesempatan untuk menghindari perang global, meskipun waktu untuk bertindak semakin sempit.
Editor : Moch Vikry Romadhoni