Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Smartwatch Kopilot ATR yang Jatuh di Sulsel Diduga Masih Rekam Langkah Kaki

Moch Vikry Romadhoni • Senin, 19 Januari 2026 | 15:49 WIB

 

Upaya pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. (Instagram/kantorsar_makassar)
Upaya pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. (Instagram/kantorsar_makassar)

Radar Pasuruan - Proses pencarian korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, diwarnai pengakuan yang menyita perhatian publik. Salah satu kerabat Kopilot Farhan Gunawan menyebut adanya aktivitas tidak biasa pada smartwatch milik Farhan setelah pesawat dinyatakan jatuh.

Pengakuan tersebut disampaikan oleh Pitri Keandedes Hasibuan melalui media sosial. Ia mengungkapkan bahwa smartwatch Farhan masih mencatat pergerakan berupa langkah kaki, sehingga menumbuhkan harapan bahwa kondisi Farhan masih baik dan upaya pencarian perlu terus dimaksimalkan.

Dalam video yang beredar, Pitri menjelaskan bahwa ponsel milik Farhan telah ditemukan di area hutan dan kini berada di tangan adiknya yang merupakan kekasih Farhan. Dari perangkat tersebut diketahui ponsel masih terhubung dengan smartwatch yang digunakan Farhan.

“Pesawat jatuh tanggal 17 (Januari 2026), terus tanggal 18 dilakukan pencarian dan HP-nya Farhan dapat di hutan terus HP-nya sekarang dipegang oleh adik saya,” ujar Pitri dikutip dari video yang diunggah oleh akun Instagram @makasar_iinfo pada Senin, 19 Januari 2026.

“Nah, HP dia itu terhubung ke smartwatch-nya, terus dicek ternyata ada pergerakan langkah kaki Farhan dari pagi jam 06.00 WITA ada berapa langkah terus ditambah lagi jam 10.00 WITA sampai malam juga ada,” imbuhnya.

Pitri menyebutkan bahwa jumlah langkah kaki yang terekam di smartwatch tersebut terus bertambah. Hal ini membuat pihak keluarga berharap pencarian dilakukan lebih intensif dengan dukungan personel dan peralatan tambahan.

“Ii sudah hari ke-3 di hutan. Jadi, tolong pada Pak Prabowo atau menteri-menteri di sana yang bisa ngasih bantuan, tolong turunkan tim SAR lebih banyak lagi sekaligus sama helikopter atau apalah Pak yang bisa nyari dia ke hutan,” sambungnya.

“Saya mohon sekali, tolong selamatkan Farhan karena dia sudah memberikan tanda-tanda. HP-nya masih terhubung dan ada langkah kakinya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan bahwa tim SAR saat ini fokus pada pencarian dan evakuasi korban. Lebih dari 1.200 personel telah dikerahkan di kawasan Gunung Bulusaraung.

“Dalam kurun waktu golden time ini, kita mengharapkan ada keajaiban dan juga tim SAR mampu menemukan seluruh korban,” ucap Syafii dalam konferensi pers di Posko SAR, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep pada Senin, 19 Januari 2026.

“Karena kami yakini bahwa kepastian itu hanya milik Tuhan. Selama kita belum benar-benar menemukan, kita pasti akan mengejar dalam kurun waktu yang ada,” tambahnya.

Golden time sendiri merupakan periode krusial penyelamatan yang umumnya berlangsung selama 72 jam atau tiga hari pertama setelah kejadian. Namun, upaya pencarian diakui menghadapi tantangan cuaca dan medan yang sulit.

“Dari tim di lapangan memang telah menemukan korban. Namun, karena kondisi cuaca dan medan yang ada, sehingga evakuasi belum bisa kita sampai di rumah sakit yang ditunjuk polri sebagai tim DVI (Disaster Victim Identification),” terangnya.

“Prioritas yang kita laksanakan adalah SAR menggunakan sarana udara, namun karena cuaca, pesawat tidak maksimal untuk kita operasikan,” sambungnya.

Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026 di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Serpihan pesawat kemudian ditemukan di Gunung Bulusaraung, sehingga pencarian difokuskan di kawasan tersebut.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#sulsel #langkah kaki lambat #kopilot #ATR 42 500 #smartwach