Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Dipersoalkan! Prabowo Sebut Biaya Sumur Bor Rp150 Juta Masih Murah

Moch Vikry Romadhoni • Sabtu, 3 Januari 2026 | 19:02 WIB
Presiden Prabowo Subianto merayakan tahun baru besama warga terdampak bencana di Tapanuli Utara, Sumut, Rabu (31/12/2025).
Presiden Prabowo Subianto merayakan tahun baru besama warga terdampak bencana di Tapanuli Utara, Sumut, Rabu (31/12/2025).

Radar Pasuruan - Belakangan, perbincangan warganet ramai menyoroti besaran biaya pengeboran sumur di wilayah terdampak bencana alam. Isu ini mencuat usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang, Kamis (1/1), membahas penyediaan air bersih bagi masyarakat.

Dalam rapat tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto memaparkan bahwa biaya pengeboran sumur dengan kedalaman 100 hingga 200 meter berada di kisaran Rp100 juta hingga Rp150 juta.

Presiden Prabowo menilai biaya tersebut masih tergolong wajar dan terjangkau. Menurutnya, untuk sumur bor dengan kedalaman ratusan meter yang dapat menghasilkan air layak minum, angka tersebut tidak berlebihan.

”Maaf ya kalau 1 (sumur bor 100-200 meter) Rp 150 juta itu saya anggap relatif murah itu,” kata dia.

Prabowo menjelaskan penilaiannya didasarkan pada pengalaman pribadi membangun sumur bor dengan biaya yang bahkan melampaui kisaran Rp100–150 juta. Oleh sebab itu, laporan yang disampaikan KSAD dan Kepala BNPB dinilainya masuk akal.

Ia juga menekankan bahwa sumur bor tersebut sudah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung sehingga dapat langsung dimanfaatkan masyarakat.

”Lengkap, bapak. Dengan instalasi airnya, kemudian juga ada tangki airnya dan bisa langsung diambil oleh masyarakat,” ucap Suharyanto.

Dalam rapat itu turut dijelaskan adanya dua jenis sumur bor yang dibangun BNPB bersama TNI-Polri dan instansi terkait. Sumur pertama memiliki kedalaman 20–30 meter dan digunakan untuk kebutuhan nonkonsumsi, sedangkan sumur kedua berkedalaman 100–200 meter yang diperuntukkan bagi air minum.

”Untuk yang dibangun Polri itu kedalamannya 20-30 meter, airnya hanya untuk membersihkan. Kemudian yang dibangun oleh Pusterad, kami yang membiayai, itu kedalamannya 100-200 meter, itu yang untuk minum. Jadi, semuanya sudah dilaksanakan,” jelasnya.

Sementara itu, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak melaporkan bahwa TNI AD telah membangun 129 titik sumur bor. Jumlah tersebut belum termasuk sumur bor yang dibangun Polri maupun BNPB, sehingga total keseluruhan melebihi angka tersebut.

Ia menambahkan, pembangunan sumur bor dilakukan di berbagai lokasi strategis seperti tempat pengungsian, sekolah, masjid, hingga kantor kecamatan, menyesuaikan kebutuhan warga di lapangan.

”Pengungsian yang kita bor, terus sekolah-sekolah, masjid-masjid, kecamatan. Jadi, berkoordinasi dengan wilayah itu tempat mana yang diperlukan, pak. Jadi, kami bekerja simultan. Dari Kemhan juga kami mengirim 10 pemadam kebakaran, makanya jalan cepat selesai di sini, pak,” lapor Maruli.

Editor : Moch Vikry Romadhoni