Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Dusun Lelabu Terisolir Usai Banjir Aceh Tengah, Warga Bertaruh Nyawa Lewat Danau

Moch Vikry Romadhoni • Jumat, 2 Januari 2026 | 16:49 WIB

 

Warga Dusun Lelabu, Mendale, Aceh Tengah yang masih kesulitan akses darat untuk dapat bantuan.
Warga Dusun Lelabu, Mendale, Aceh Tengah yang masih kesulitan akses darat untuk dapat bantuan.

Radar Pasuruan - Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 menyisakan duka mendalam bagi warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga lebih dari sebulan berlalu, sejumlah wilayah di Aceh Tengah masih terisolir dan membutuhkan uluran bantuan.

Salah satu wilayah terdampak adalah Dusun Lelabu, Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan. Warga setempat hidup dalam kekhawatiran akan kemungkinan banjir atau longsor susulan, sementara akses darat menuju dusun terputus total.

Satu-satunya jalur keluar-masuk hanya bisa ditempuh melalui Danau Lut Tawar.

Seorang warga menceritakan detik-detik banjir dan longsor yang terjadi pada 26 November 2025. Saat itu, air mulai datang dengan deras sekitar pukul 16.00 WIB. Anak-anak dan perempuan lebih dulu dievakuasi menggunakan kapal milik pesantren.

“Datang kapal dari Mendale ke sini, jemput anak ke pesantren. Terus lari aku ke sana, nanya mana sopirnya. Saya bilang setelah jemput anak pesantren ini, jemput lagi kami ke sini dua kapal,” ucapnya dalam video yang diunggah akun Instagram @syahru_ozer pada Jumat, 2 Januari 2026.

Ia mengungkapkan, dua kapal kembali datang sekitar pukul 17.00 WIB untuk mengevakuasi perempuan dan anak-anak lain. Mereka tiba di posko pengungsian sekitar pukul 21.00 WIB. Sementara itu, para laki-laki dewasa memilih bertahan di dusun.

“Bapak-bapak nggak ada pergi, mereka di sini. Akhirnya datang air dari atas jam 00.00 WIB dan bapak-bapak ini naik sampan ke Takengon sampainya jam 04.00 WIB, tanpa lampu di tengah danau,” lanjutnya.

Putusnya akses darat membuat perjalanan hanya bisa dilakukan lewat danau dengan sampan kecil. Warga lain menceritakan ketegangan saat mendayung perahu di tengah hujan deras dan longsor yang terjadi di sekitar perbukitan.

“Ibu-ibu udah duluan kami bawa ke sana naik kapal, naik boat. Bapak-bapaknya tinggal di sini karena nggak muat, terus datang longsor dari kiri kanan, terpaksa dayung perahu dari sini sampai ke Takengon,” ujarnya.

“Dari jam 12 malam sampai jam 4 subuh, itu kiri-kanan gunung-gunung kayak jatuh. Rasanya kayak gunung itu pecah,” lanjutnya.
“Mungkin kalau malam datangnya, pasti kita korban,” tambahnya.

Sampan yang digunakan hanya mampu mengangkut sekitar lima orang dengan satu dayung, itupun dalam kondisi cuaca buruk.

Hingga kini, keterbatasan transportasi masih menjadi kendala utama untuk mendapatkan bantuan logistik.

“Harus didayung, nggak ada boat. Harus mendayung 3 sampai 4 jam kalau mau beli minyak makan, telur,” ucap seorang relawan.

Meski rumah-rumah warga rusak dan dipenuhi lumpur yang mengeras, sebagian warga memilih kembali dan bertahan. Mereka membersihkan rumah secara bertahap dan menempatinya dengan kondisi seadanya.

“Tinggal tetap di sini kami. Pokoknya terserah sama Allah, kalau kemana pun kalau mau mati kan mati ya,” tuturnya lirih.

Ketiadaan gas membuat warga memasak menggunakan kayu bakar. Dengan harta benda yang hampir habis, keselamatan jiwa menjadi satu-satunya hal yang mereka syukuri.

“Nggak ada apa-apa lagi, tinggal yang ada di badan. Ini mulai dibersihin kan sedikit-sedikit, yang penting selamat. Harta masih bisa dicari, cuma nyawa yang terbatas,” pungkasnya.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Pascabanjir #sumatera #aceh tengah #danau