Radar Pasuruan - Selain bantuan logistik pangan, kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendesak bagi warga terdampak banjir di Sumatera. Hingga kini, sebagian masyarakat masih terpaksa memanfaatkan air banjir untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi hingga mencuci peralatan rumah tangga.
Kondisi tersebut memicu gangguan kesehatan, terutama penyakit kulit. Salah satu warga Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, mengeluhkan munculnya gatal-gatal akibat penggunaan air yang diduga tercemar.
“(Kenapa gatal) Biasanya kan mandi air bersih pakai air PAM itu kan, sekarang pakai air apa? Air sumur. Air sumur kan juga dari air banjir ini,” ujar warga tersebut dalam video unggahan akun Instagram @a.muhammadkurniawan.s, dikutip Sabtu, 27 Desember 2025.
“Entah airnya kena apa, datang dari mana, mungkin bakteri nempel ke kulit,” lanjutnya.
Ia menyebut, keluhan serupa juga dialami oleh anaknya.
“Itu korengan anak saya, gatal-gatal. Termasuk saya kena gatal-gatal ini,” ungkapnya.
Dalam video yang sama, tampak warga mencuci peralatan makan menggunakan air berwarna cokelat keruh sisa banjir. Situasi darurat membuat masyarakat tidak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan air harian.
Ketersediaan air bersih menjadi faktor krusial dalam penanganan bencana. Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2018–2021, dokter Daeng Mohammad Faqih, menegaskan pentingnya air bersih dan obat-obatan dalam kondisi darurat.
“Ketersediaan air dan makanan ini penting banget. Kalau tidak tersedia, maka mungkin timbul komplikasi penyakit yang lain. Itu yang dikhawatirkan,” ujarnya, dikutip dari podcast Forum Keadilan TV, Sabtu, 27 Desember 2025.
Ia menjelaskan, banjir berpotensi memicu berbagai penyakit sehingga membutuhkan tenaga medis yang sesuai.
“Lini pertama itu (dokter) penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bencana banjir. Banjir itu air, misalnya terhirup ke paru-paru, termakan ke saluran cerna, kena mata jadi penyakit mata, kena kulit jadi penyakit kulit,” paparnya.
“Jadi, yang harus dikirim itu misalnya penyakit dalam, penyakit paru, kemudian dokter mata, dokter kulit,” pungkasnya.
Editor : Moch Vikry Romadhoni