Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Warga Muslim dan Buddha Sambut Natal di Gereja, Pelukan Hangat Bikin Haru

Moch Vikry Romadhoni • Jumat, 26 Desember 2025 | 22:43 WIB

 

Warga Dusun Thekelan, Kabupaten Semarang yang viral karena toleransinya saat Natal 2025.
Warga Dusun Thekelan, Kabupaten Semarang yang viral karena toleransinya saat Natal 2025.

Radar Pasuruan - Suasana toleransi yang hangat kembali diperlihatkan warga Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, saat perayaan Natal. Kerukunan antarumat beragama di wilayah tersebut kembali mencuri perhatian publik dan viral di media sosial.

Dalam video yang beredar, warga Dusun Thekelan yang beragama Islam dan Buddha tampak mendatangi Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) El Shaddai.

Mereka berdiri berjajar rapi di depan gereja, menunggu jemaat Kristen menyelesaikan ibadah Natal, lalu saling berjabat tangan hingga berpelukan dalam suasana penuh kehangatan.

“Kamis, 25 Desember 2025, sejak pagi warga Dusun Thekelan berbondong-bondong menuju gereja,” tulis keterangan akun Instagram @azmi_zami, dikutip pada Jumat, 26 Desember 2025.

“Warga Muslim dan Buddha berdiri rapi di depan gereja, menunggu umat Kristen menyelesaikan ibadah untuk kemudian memberikan ucapan selamat. Jabat tangan, pelukan hangat, dan suasana haru menjadi pemandangan yang begitu alami,” lanjutnya.

Momen kebersamaan tersebut bukan kali pertama terjadi. Tradisi serupa juga sempat viral pada tahun sebelumnya, menandakan bahwa sikap saling menghormati perayaan keagamaan telah mengakar kuat di tengah kehidupan warga Dusun Thekelan.

“Di Dusun Thekelan, Semarang, toleransi hidup sebagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ungkap pemilik akun.

“Setiap perayaan hari besar keagamaan, seluruh aktivitas warga berhenti dan masyarakat berkumpul untuk saling menghormati dan menguatkan kebersamaan,” imbuhnya.

Menurutnya, perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang terciptanya kerukunan sosial. Nilai toleransi dijalani sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar simbol.

“Kerukunan dijalani bukan sebagai simbol, melainkan sebagai cara hidup sehari-hari,” tuturnya lagi.

Hal tersebut diperkuat oleh komentar warganet yang mengaku mengenal tradisi di dusun tersebut. Salah satu akun menyebut kegiatan saling menyambut juga dilakukan saat hari raya agama lain.

“Buat yang belum tahu, kegiatan menyambut warga yang sedang merayakan hari raya merupakan kegiatan rutin di sana,” tulis akun @dims_aps.

“Tidak hanya momen Natal saja, namun ketika momen hari raya Waisak dan Idul Fitri, warga masyarakat yang berbeda keyakinan tetap menyambut dengan suka cita. Jadi, bagi kami tidak ada istilah ‘toleransi kebablasan,’” lanjutnya.

Unggahan tersebut menuai respons positif dari warganet. Hingga kini, video tersebut telah ditonton sekitar 1,4 juta kali, meraih lebih dari 149 ribu likes, serta dibanjiri lebih dari 7 ribu komentar.

Beragam pujian dilontarkan netizen, mulai dari apresiasi terhadap sikap saling menghargai hingga ungkapan haru melihat potret kebersamaan lintas iman yang dinilai mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#budha #natal #muslim #gereja