Radar Pasuruan - Keberadaan jamaah haji asal Kepanjen, Kabupaten Malang, Sukardi (67), hingga kini masih belum diketahui. Ia dilaporkan hilang di Makkah pada 29 Mei 2025 saat menunaikan ibadah haji.
Sukardi tergabung dalam Kloter SUB-79 Embarkasi Surabaya. Berdasarkan laporan, ia terakhir kali terlihat berada di Hotel Tala’ea Al-Khair, Makkah, tepatnya di kamar 813. Dugaan sementara, Sukardi terpisah dari rombongan sekitar dua hari setelah tiba di Kota Suci.
Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI terus melakukan berbagai upaya untuk melacak keberadaan Sukardi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melakukan tes DNA terhadap pihak keluarga.
Plt Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Timur, Muh. As’adul Anam, mengatakan pengambilan sampel darah keluarga telah dilakukan oleh Kemenag pusat bersama Mabes Polri.
"Jadi, Senin kemarin itu Kemenag pusat dan Mabes Polri sudah dilakukan pengambilan darah untuk pengujian DNA. Dan nanti akan dicocokkan dengan DNA jenazah yang meninggal di sana," ujar As’adul, Rabu (24/12).
Menurutnya, pemerintah Arab Saudi menghimpun data jenazah yang ditemukan selama musim Haji 2025. Sampel DNA keluarga Sukardi nantinya akan dicocokkan dengan data DNA jenazah yang berada di rumah sakit di Arab Saudi.
"Nah, kalau cocok berarti keluarga yang mereka cari (Sukardi) saat ini sudah meninggal. Tetapi saya kira masih menunggu ya, menunggu pencocokan DNA yang di Arab Saudi," lanjutnya.
Sebagai langkah pencegahan agar kasus jamaah hilang tidak terulang, Kanwil Kemenhaj Jawa Timur berencana memperketat persyaratan keberangkatan calon jamaah haji tahun 1447 H/2026. Fokus utama pengetatan menyasar jamaah lanjut usia dan mereka yang memiliki riwayat gangguan kesehatan tertentu.
"Calon jamaah haji yang memiliki demensia dilarang berangkat (tidak lulus Istithaah). Fungsi petugas haji akan ditingkatkan, khususnya linjam (perlindungan jemaah). Penempatan jamaah dengan sistem blok," jelas As’adul.
Meski demikian, sistem gelang identitas jamaah tetap akan digunakan pada penyelenggaraan haji mendatang. Menurut As’adul, gelang nama masih menjadi sarana efektif untuk membantu petugas melacak jamaah yang terpisah dari rombongan.
"Masih efektif jamaah yang kesasar cukup dengan gelang bisa dilacak," pungkasnya.
Baca Juga: RI Prabu Siliwangi-321 Resmi Diterima KSAL, Kapal Perang Tercanggih TNI AL
Editor : Moch Vikry Romadhoni