Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Kisah Pilu Ayah di Garoga Kehilangan Anaknya Saat Menyusu Diterjang Banjir

Moch Vikry Romadhoni • Senin, 22 Desember 2025 | 21:23 WIB

 

Kesaksian warga Desa Garoga, Tapanuli Selatan saat banjir datang dan menyeret anaknya.
Kesaksian warga Desa Garoga, Tapanuli Selatan saat banjir datang dan menyeret anaknya.

Radar Pasuruan - Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera meninggalkan luka mendalam bagi warga di tiga provinsi terdampak, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga kini, masyarakat masih menunggu bantuan dari pemerintah maupun relawan di tengah proses pemulihan.

Di balik angka kerusakan dan korban jiwa, tersimpan kisah-kisah memilukan para penyintas. Salah satunya dialami seorang ayah di Desa Garoga, Tapanuli Selatan, yang harus kehilangan anaknya dalam peristiwa tersebut.

Balita Terlepas Saat Menyusu

Kisah itu diunggah akun Instagram @sibangzul_ pada Minggu, 21 Desember 2025. Dalam video tersebut, sang ayah menceritakan anaknya bernama Mumtaz, balita berusia 2 tahun, meninggal dunia akibat banjir bandang.

“Mumtaz, bayi 2 tahun yang lepas dari pelukan ibunya yang lagi menyusui saat banjir bandang di Garoga, Tapteng,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Ia mengungkapkan, saat banjir datang, Mumtaz sedang disusui sambil digendong ibunya ketika air sungai naik disertai kayu gelondongan.

“Waktu banjir datang, ibu dan Mumtaza hanyut terseret arus, lagi nyusui sambil digendong. Kondisi Mumtaz lagi nangis, tiba-tiba air sungai naik dan langsung bawa gelondongan kayu,” ucap sang ayah.

Meski ibunya terus memeluk erat, pelukan itu akhirnya terlepas setelah tubuh mereka berkali-kali dihantam arus deras dan kayu besar.

Kenangan yang Tak Terhapus

Jenazah Mumtaz telah ditemukan setelah banjir surut, namun kondisinya sudah berubah. Rumah keluarga tersebut pun hancur, dengan potongan kayu berserakan di sekitarnya.

“Biasa waktu pulang kerja, selalu minta jalan-jalan dulu. Jadi, selama pulang ini selalu teringat Mumtaz,” tuturnya.

Desa Garoga tercatat sebagai salah satu wilayah dengan dampak paling parah akibat banjir dan longsor. Saat ini, pembersihan kayu menjadi fokus utama penanganan darurat.

Kementerian Kehutanan melakukan tiga langkah, yakni membersihkan area hilir, memantau titik longsor di hulu, serta memberikan peringatan dini kepada warga terkait potensi banjir susulan yang membawa kayu.

Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan pembangunan hunian tetap bagi korban banjir dan longsor, termasuk warga Garoga. Proyek pembangunan rumah tersebut ditargetkan selesai pada awal 2026.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#korban #balita #sumatera #banjir