Radar Pasurua - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan penyaluran 14 ribu ton beras untuk wilayah terdampak bencana di Aceh. Namun, pelaksanaannya menghadapi hambatan besar karena sejumlah jalur masih terputus akibat banjir dan longsor sejak akhir November.
Ketersediaan beras tersebut dipaparkan Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto dalam rapat koordinasi di Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh pada Rabu (3/12).
Menurut Andriko, total stok beras untuk Aceh mencapai 14.721,29 ton. Jumlah ini mencakup penyaluran bantuan dua bulan (Oktober–November) sebesar 12.495,12 ton, serta tambahan minyak goreng sebanyak 2.449.024 liter.
Ia menegaskan bahwa instruksi Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanianadalah menyalurkan seluruh bantuan. “Di Aceh baru terealisasi 24 persen karena ada hambatan distribusi. Mudah-mudahan kendala ini bisa kita selesaikan sehingga seluruh bantuan bisa diterima. Target penerimanya mengacu pada data titik sebar dari Kementerian Sosial,” ujarnya kepada Harian Rakyat Aceh.
Andriko menambahkan bahwa pihaknya juga menyetujui usulan tambahan bantuan sebesar 1.797,88 ton, yang rencananya akan dinaikkan hingga 3.000 ton. "Jadi perintahnya Pak Menteri jika dibutuhkan, diusulkan lagi Pak. Baik melalui Bupati atau Gubernur," tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa setiap tiga titik wilayah mendapatkan alokasi sekitar 10.000 ton. Dengan ketersediaan 3.000 ton sekarang, masih tersisa sekitar 7.000 ton yang dapat digunakan selama masa tanggap darurat 14 hari. Bila masih kurang, daerah dapat mengajukan tambahan secara bertahap.
Andriko juga menyoroti bahwa Aceh memiliki Cadangan Pangan Pemerintah Aceh (CPP) sebesar 187,10 ton dan cadangan kabupaten/kota sebanyak 241,19 ton, sehingga total cadangan mencapai sekitar 428 ton yang tersimpan di Bulog.
“Realisasinya saat ini baru sekitar 20 ton, sehingga belum bisa didorong lebih jauh. Cadangan pangan pemerintah daerah itu sebenarnya berupa barang yang dititipkan pemprov dan pemkab di Bulog, dan bisa diminta sewaktu-waktu, tidak hanya untuk bencana,” jelas Andriko.
Ia juga berharap agar alokasi 1.797,88 ton yang sudah disetujui untuk penanganan bencana bisa segera disalurkan. Mekanisme distribusi dilakukan berdasarkan permintaan resmi dari Gubernur Aceh dan diteruskan melalui BPBA hingga BPBD kabupaten/kota.
”Intinya harus ada penugasan agar prosesnya cepat. Kami juga sudah mengonfirmasi ke direktur operasional supaya seluruh jajaran Bulog dalam posisi siaga. Hambatannya saat ini memang pada akses distribusi,” katanya.
Andriko turut menyebut bahwa Kementerian Pertanian dan Bapanas telah mengumpulkan donasi sekitar Rp 80 miliar untuk dikirim ke Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. “Informasinya mulai Kamis bantuan non-beras akan dikirim melalui laut dari Lhokseumawe. Karena beras tetap dari Bulog. Sesuai arahan Presiden, jangan ada hambatan terkait pangan karena ini kebutuhan paling mendesak,” ujarnya.
Baca Juga: WALHI Sebut Negara dan Korporasi Biang Kerusakan Ekologis Sumatera
Editor : Moch Vikry Romadhoni