Radar Pasuruan - Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sedang mengalami bencana besar. Namun, daerah lain juga diminta meningkatkan kewaspadaan karena potensi kejadian serupa bisa muncul akibat melemahnya fungsi hutan sebagai kawasan lindung.
”Seandainya Siklon Senyar (seperti yang terjadi di Sumatera) ada di Jawa, risiko bencananya sangat besar,” kata Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq kemarin (4/12).
Hanif kemudian membandingkan intensitas hujan akibat Siklon Senyar yang memicu bencana hidrometeorologi di Sumatera. Ia mencontohkan banjir besar di Bekasi dan sekitarnya pada Februari lalu yang terjadi karena hujan 147 mm.
Sementara itu, banjir bandang di Denpasar pada September yang menewaskan sekitar 21 orang disebabkan curah hujan ekstrem 245 mm.
Di Aceh, intensitas curah hujan bahkan sempat mencapai 400 mm. “Perlu adaptasi khusus terkait risiko hujan ekstrem di masa mendatang,” katanya.
Baca Juga: Lisa Mariana Selesai Diperiksa, Polisi Ungkap Alasan Tak Ditahan
Untuk Jawa Barat, Hanif menegaskan ancaman bencana hidrometeorologi semakin besar karena tutupan hutan menyusut drastis.
Dari kebutuhan 1,6 juta hektare kawasan hutan untuk melindungi wilayah hilir, sebanyak 1,4 juta hektare telah hilang dan berubah menjadi area pertambangan, permukiman, wisata, serta kawasan komersial lain.
”Akibatnya kawasan hilir seperti Bekasi dan Jakarta rawan tergenang banjir. Harusnya tutupan hutan itu dijaga. Kalau perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Ia juga menyebut sebanyak 23 daerah aliran sungai (DAS) terdampak bencana di Sumatera. Tutupan hutan di Aceh, Sumut, dan Sumbar terus menurun sehingga tidak mampu lagi menyerap air hujan secara optimal.
Baca Juga: WALHI Sebut Negara dan Korporasi Biang Kerusakan Ekologis Sumatera
”Di Aceh, tutupan hutan dalam kurun 1990–2024 berkurang 14 ribu hektare,” katanya.
Di Sumut, DAS Batang Toru kehilangan sekitar 19 ribu hektare tutupan hutan, sementara Sumbar mengalami penyusutan 10.521 hektare. Kombinasi curah hujan ekstrem dan daya serap hutan yang melemah membuat bencana tak terhindarkan.
Sementara itu, dalam rapat dengar pendapat di DPR, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa deforestasi nasional turun dari 216.216 hektare pada 2024 menjadi 166.450 hektare per September 2025, atau menurun 23,01 persen.
”Penurunan deforestasi tersebut juga teridentifikasi pada tiga provinsi terdampak banjir,” kata Raja.
Ia menyebut Aceh mengalami penurunan 10,04 persen, dari 11.228 hektare pada 2023–2024 menjadi 10.100 hektare pada 2024 hingga September 2025. Sementara itu, Sumut mencatat penurunan 13,98 persen dan Sumbar turun 14 persen
Editor : Moch Vikry Romadhoni