Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Staink Dipasang di 5 Posko Bencana! FiberStar Turun Tangan Bantu Internet Darurat

Moch Vikry Romadhoni • Jumat, 5 Desember 2025 | 02:16 WIB

 

Wisnu Wardhana selaku Customer Service Assurance Division Head FiberStar (kanan) saat media gathering FiberStar di Jakarta, Kamis (4/12).
Wisnu Wardhana selaku Customer Service Assurance Division Head FiberStar (kanan) saat media gathering FiberStar di Jakarta, Kamis (4/12).

Radar Pasuruan - Layanan internet darurat menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Sejumlah pihak mengirimkan dukungan layanan Starlink untuk membantu pemulihan konektivitas di wilayah bencana.

FiberStar, sebagai penyedia infrastruktur digital sekaligus Authorized Starlink Reseller, turut menyalurkan bantuan berupa paket sembako, logistik, dan instalasi akses internet ke sejumlah titik terdampak di Sumatera.

Saat ini, pemasangan perangkat Starlink telah dilakukan di lima lokasi posko. Titik pertama berada di Posko Lanud Soewondo untuk disalurkan ke Sibolga, Tapanuli Tengah. Titik kedua berada di Posko Gedung Bulog Medan untuk wilayah Medan dan sekitarnya.

Selanjutnya, titik ketiga adalah Posko APJII Medan yang mengalirkan konektivitas ke Sumatera Utara dan Aceh. Titik keempat berada di Posko Sumbar di Pekanbaru untuk Markas Kodam 19/Tuanku Tambusai, dan titik kelima berada di Posko BPBD Tarutung, Kantor Bupati Tapanuli Utara, untuk wilayah Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.

Pemasangan layanan internet ini diarahkan ke area bencana yang membutuhkan akses komunikasi cepat untuk mendukung koordinasi posko, relawan, dan aparat. FiberStar juga menyiapkan tambahan titik pemasangan yang akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.

“Dalam penanganan bencana, kecepatan adalah kunci. Karena itu, kami tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga menghadirkan akses internet yang dapat langsung digunakan oleh tim lapangan dan warga. Komunikasi yang lancar memungkinkan distribusi bantuan menjadi lebih tepat sasaran,” kata Wisnu Wardhana selaku Customer Service Assurance Division Head FiberStar saat media gathering FiberStar di Jakarta, Kamis (4/12).

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut bukan hanya respons jangka pendek, melainkan bagian dari strategi FiberStar mendukung percepatan digitalisasi di wilayah 3T. Banyak titik terdampak berada di lokasi yang sulit dijangkau jaringan fiber, sehingga teknologi satelit menjadi solusi paling memungkinkan.

“Wilayah 3T menghadapi hambatan infrastruktur yang berbeda dari kawasan urban. FiberStar hadir untuk menjembatani kesenjangan digital ini dengan menghadirkan solusi hybrid, menggabungkan infrastruktur terrestrial kami dengan teknologi satelit. Dengan dukungan Starlink, konektivitas di daerah terpencil kini bisa hadir jauh lebih cepat tanpa menunggu pembangunan jaringan yang kompleks,” tambahnya.

Akses internet menjadi kebutuhan penting di era digital, terutama untuk pendidikan, layanan kesehatan, ekonomi digital, hingga administrasi desa. Di kawasan terdampak bencana, keberadaan internet membantu warga mengakses informasi dan terhubung dengan keluarga.

Dalam praktiknya, tim FiberStar menyesuaikan instalasi dengan kondisi geografis dan kebutuhan operasional posko. Instalasi dilakukan dengan cepat sehingga akses internet dapat langsung dipakai oleh relawan.

Warga sekitar posko turut merasakan manfaat konektivitas tersebut, mulai dari menghubungi keluarga, mencari info bantuan, hingga memantau cuaca dan perkembangan situasi daerah.

“Ketika akses internet hadir, masyarakat di wilayah terdampak tidak lagi merasa terputus dari dunia luar. Mereka mendapatkan kembali rasa aman dan kemampuan untuk mengakses informasi penting. Ini adalah bagian dari misi FiberStar untuk memastikan bahwa teknologi tidak hanya dinikmati oleh masyarakat kota, tetapi juga menjadi penyelamat di saat-saat kritis,” ujar dia. FiberStar menilai pemerataan transformasi digital penting untuk mengurangi kesenjangan pusat dan daerah melalui penggunaan teknologi satelit dan jaringan operator netral.

Namun, sejumlah tantangan muncul dalam proses pengiriman perangkat Starlink, salah satunya akses menuju Kota Langsa, Aceh, yang sempat terputus meski jaraknya hanya tiga jam dari Medan.

“Kemarin sore saya sampai bingung cari akses ini adalah, hanya mau kirim ke Langsa. Padahal Langsa itu enggak nyampai tiga jam dari Medan. Dan sementara Langsa itu butuh konektivitas. Kita mau kirim ke sana jalanan terputus dari Medan,” ungkap dia.

Jalan tol ke Langsa terendam banjir di Pangkalan Brandan, sementara jalur Aceh Tamiang dalam kondisi seperti medan offroad. Akhirnya, tim memutuskan memakai jalur udara melalui koordinasi dengan pihak TNI.

“Itu yang pertama saya coba kontak teman-teman yang bisa dapat akses ke TNI. Ini kira-kira ada nggak pesawat buat ke Langsa? Atau misalnya kita coba lewat Lhokseumawe? Karena mungkin saking banyaknya traffic ke sana kita juga akhirnya mesti ngantri. Jadi saya baru dapet antrian ini sekarang tanggal lima ya Untuk bisa dapet ke Lhokseumawe terus baru dikirim ke Langsa,” tukasnya.

Kesulitan juga muncul akibat keterbatasan bensin saat pengiriman dari Medan ke Sibolga. Tim harus antre di SPBU, sementara masyarakat juga membutuhkan BBM untuk kebutuhan dasar.

“Kita digilir dan kita dibatasi juga, nggak boleh sampai banyak ya. Kita juga kadang-kadang udah minta bantuan keluarga, bisa nggak minta bantuan. Akhirnya mereka hanya bisa kasih bantuan, tapi hanya untuk area kota itu sendiri. Karena kalau mereka kasih bantuan untuk mobil pergi ke luar kota, mereka khawatirnya nggak ada untuk bensin lagi,” tukas dia.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#bencana #internet #sumut #posko #aceh #starlink