Radar Pasuruan - Bencana banjir bandang dan longsor menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas publik serta jalur transportasi. Kondisi serupa dialami warga terdampak bencana di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Peristiwa yang menelan banyak korban jiwa itu hingga kini masih menyisakan situasi darurat. Seorang warga Aceh, Erlanda Juliansyah Putra, menyampaikan bahwa wilayah terdampak masih menghadapi kekurangan makanan, keterbatasan air bersih, pemadaman listrik, dan gangguan komunikasi.
Kondisi yang berlangsung selama beberapa hari terakhir membuat masyarakat mulai kehilangan harapan. Warga pun meminta pemerintah membuka peluang bantuan dari luar negeri.
“Maaf Pak Presiden, kondisinya sudah tidak bisa ditolerir,” kata Erlanda dalam media sosial Instagram, Rabu (3/12).
Ia menilai, terpecahnya fokus penanganan di tiga provinsi membuat distribusi kebutuhan dasar terhambat. Karena itu, ia mendesak pemerintah pusat membuka ruang bagi bantuan internasional dari negara mitra.
“Fokus bantuan terpecah di tiga provinsi. Izinkan Aceh dibuka akses untuk menerima bantuan internasional,” ucap Erlanda.
Menurutnya, masyarakat di banyak lokasi kini berada dalam kondisi kritis karena jalur pasokan terputus. Situasi tersebut membuat bantuan dari pemerintah dan relawan sulit mencapai wilayah terpencil.
“Masyarakat lapar, mereka haus, akses terputus!” tegasnya.
Ia memahami pemerintah sering dinilai keliru dalam kondisi genting seperti ini. Namun, di lapangan, warga menghadapi situasi yang sangat berat.
“Apa pun yang negara perbuat akan terlihat salah di mata masyarakat. Ketika negara dinilai tidak mampu menjamin kehidupan warganya, rakyat lapar, haus, gelap dan mencekam," tuturnya.
Erlanda menambahkan, Aceh memiliki medan geografis yang luas dan beragam, sehingga jalur ke wilayah tengah, barat, dan timur memiliki tantangan tersendiri.
“Aceh itu luas dan untuk ke wilayah tengah, barat dan timur aksesnya itu berbeda,” urainya.
Ia menggambarkan bahwa situasi di beberapa titik sudah sangat parah, hingga sebagian warga terpaksa menjarah demi bertahan. Menurutnya, kondisi semakin mencekam di malam hari karena tidak ada penerangan dan tidak tersedianya sinyal komunikasi. “Kami sudah seperti zombie menjarah untuk bertahan hidup,” ungkap Erlanda.
Di banyak tempat yang terisolasi, situasi disebutkan semakin mengkhawatirkan. Ia menyebut sejumlah daerah yang terdampak berat, seperti Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Utara, Pidie Jaya, Bireuen, hingga Nagan Raya (Beutong).
“Daerah ini terlalu luas dan susah dijangkau,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan kembali pengalaman Aceh pada tsunami 2004, di mana bantuan internasional menjadi faktor besar dalam pemulihan.
Karena itu, ia berharap pemerintah kembali membuka kesempatan bagi dukungan dari negara-negara sahabat untuk membantu pemulihan Aceh.
“Izinkan kami membuka akses untuk negara asing membantu kami,” pungkasnya.
Editor : Moch Vikry Romadhoni