Radar Pasuruan - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan permintaan maaf kepada Bupati Tapanuli Selatan. Ia mengaku terkejut karena tidak menyangka dampak bencana di wilayah Sumatera Utara itu begitu besar.
Permohonan tersebut disampaikan saat Suharyanto meninjau Desa Aek Garoga, Batang Toru, pada Minggu (30/11). Sebelum mencapai lokasi itu, ia melewati dua desa lain yang juga terkena banjir, yakni Desa Batu Godang dan Aek Ngadol.
Meski demikian, kerusakan terparah ia temui di Desa Aek Garoga. Suharyanto tidak pernah membayangkan tingkat kehancuran yang ditimbulkan banjir, ditambah lagi adanya longsor di sejumlah titik.
"Tapsel (Tapanuli Selatan) saya surprise (terkejut), saya tidak mengira seperti ini. Saya mohon maaf pak bupati. Ini, bukan berarti kami tidak peduli begitu. Kami hadir di Tapanuli ini, untuk membantu. Tidak ada bedanya utara selatan, tengah. Itu sama semua bagi kami, tidak melihat suku, agama, ras. Sama bagi kami. Jadi kami turun dengan kekuatan penuh," kata dia sebagaimana dikutip dari pemberitaan Riau Pos pada Senin (1/12).
Sebelumnya, Suharyanto menjelaskan bahwa bencana banjir dan longsor di Sumut, Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh masih berada pada level penanganan provinsi. Ia menilai, suasana tampak mengerikan di media sosial karena banyaknya unggahan warga.
"Memang kemarin kelihatannya mencekam karena berseliweran di media sosial, tetapi begitu kami tiba langsung di lokasi, banyak daerah yang sudah tidak hujan. Yang paling serius memang Tapanuli Tengah, tetapi wilayah lain relatif membaik," ujarnya.
Data per Minggu malam (30/11) menunjukkan korban meninggal di Sumut mencapai 217 jiwa. Korban tersebar di berbagai daerah seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Kota Padang Sidempuan, Deli Serdang, dan Nias.
"Korban jiwa untuk Sumatera Utara 217 yang meninggal dunia kemudian 209 yang masih hilang," ungkap Suharyanto.
Karena penanganan masih berlangsung, ribuan warga masih berada di tempat pengungsian. Di antaranya 3.600 pengungsi di Tapanuli Utara, 1.659 di Tapanuli Tengah, 4.661 di Tapanuli Selatan, 4.456 di Kota Sibolga, 2.200 di Humbang Hasundutan, serta 1.378 di Mandailing Natal.
Editor : Moch Vikry Romadhoni