Radar Pasuruan - Kabupaten Agam tercatat sebagai daerah dengan dampak paling berat akibat banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat. Hingga kini, jumlah korban meninggal mencapai 80 orang, sementara beberapa warga masih belum ditemukan.
Di sejumlah lokasi pengungsian, terlihat banyak anak yang terdampak sehingga memunculkan kekhawatiran serius terkait keselamatan dan kesehatan mereka. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun menyoroti kondisi tersebut.
“Situasi terkini, yang terparah di Agam. Memang sudah dilaporkan tewas 80 orang dan banyak yang belum ditemukan,” ujar Ketua IDAI Cabang Sumatera Barat, Dr. Asrawati, M. Biomed, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), FISQua, Senin (1/12).
Di SD Lembah, terdapat 200 pengungsi dengan 70 di antaranya merupakan anak. Sementara di Mosholla Tabu, dari 212 orang yang mengungsi, 63 adalah anak.
Asrawati menjelaskan bahwa kondisi ini menjadikan area pengungsian sangat rentan terhadap gangguan kesehatan anak akibat minimnya fasilitas dan sanitasi.
“Jadi di titik-titik lokasi ini sangat rawan untuk masalah kesehatan anak. Maka insya Allah Rabu kami sudah berada di sana,” katanya. Laporan dari tim di Agam juga memperlihatkan betapa berat situasi di lapangan.
Di Kabupaten Solok, enam nagari juga terdampak, yakni Moro Pingai, Saneng Bakar, Panindahan, Koto Hilalang, Selayu, Simpang, Tanjong Nan Ampe, dan Koto Sani. Jumlah pengungsi cukup banyak, namun data terperinci mengenai anak belum tersedia.
“Dari yang terdampak cukup banyak juga yang mengungsi. Tapi kami belum mendapatkan distribusi yang dipilah untuk usia anak,” jelasnya.
Kebutuhan mendesak saat ini meliputi air bersih, air mineral, makanan, sembako, dan pakaian. Namun, pengiriman bantuan terhambat karena akses jalan banyak yang putus akibat bencana.
“Kami bersedia menyediakan namun belum ada pihak yang sanggup menyediakan itu untuk diantar ke lokasi karena akses masih terbatas dan putus,” ungkap Asrawati.
Ia menambahkan bahwa Ketua Satgas Bencana telah menghubungi IDAI untuk koordinasi suplai air bersih, tetapi hingga kini belum ada pihak yang mampu memastikan pengiriman ke wilayah terdampak.
Baca Juga: Kayu Gelondongan Hanyut di Aceh–Sumut–Sumbar, Kemenhut Turun Tangan Selidiki
Editor : Moch Vikry Romadhoni