Radar Pasuruan - Banjir besar yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengejutkan publik setelah munculnya video potongan kayu gelondongan yang terbawa arus. Kementerian Kehutanan mengungkapkan bahwa mereka sedang menelusuri apakah kayu-kayu tersebut berkaitan dengan bencana yang terjadi.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menyampaikan bahwa tim tengah melakukan pengecekan langsung untuk mengidentifikasi jenis serta asal kayu yang terlihat hanyut.
"Tadi itu menjumpai yang istilahnya juga kawan-kawan tahu ada banyak video-video yang menyangkut keberadaan kayu ya. Tapi kalau secara visual ya, ini kawan-kawan lagi ngecek juga. Tapi secara visual, secara amatan umum kan sebetulnya kayu-kayu yang bekas tebangan ya,” ujar Dwi pada Jumat (28/11).
Ia mengatakan, sebagian besar kayu yang ditemukan tampak sudah lapuk dan diduga merupakan sisa tebangan lama, termasuk dari kawasan pekerja hutan tanaman. "Bekas tebangan yang sudah lapuk gitu kan. Itu tadi kita duga itu dari PHT salah satu-satunya yang belum sempat diangkut lah kira-kira. Sebenarnya tinggi, Pak,” tambahnya.
Dwi menuturkan bahwa proses pengecekan masih berlangsung karena beberapa lokasi sulit diakses. "Kawan-kawan masih ngecek dan ya tapi kita senyalir ke situ,” ucapnya.
Ia juga menyoroti munculnya kembali pola pelanggaran kehutanan di wilayah yang sebelumnya dianggap minim aktivitas ilegal.
“Sebetulnya kalau kasus kejahatan umumnya itu sudah bergeser ke timur, ke Papua lah. Karena yang resource-nya di sana. Nah ternyata di Mentawai kemarin, di Mentawai kemarin ternyata modus operandinya sudah berkembang ke tadi,” jelasnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa sejumlah kayu besar yang hanyut diduga berasal dari pohon tumbang alami, bukan hasil tebangan baru.
Kemenhut juga diminta oleh Komisi IV DPR untuk melaporkan perkembangan penyelidikan. "Karena kita langsung juga diminta Komisi 4 untuk melaporkan. Kita cek terus. Kawan-kawan juga fokus ke itu tadi,” ucapnya.
Banjir besar melanda kawasan Aceh, Sumut, dan Sumbar dipicu curah hujan ekstrem lebih dari 150 mm per hari. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyebutkan bahwa hujan berkepanjangan menyebabkan sungai meluap dan diperparah oleh menurunnya tutupan hutan serta sedimentasi.
Di Aceh Utara, ribuan rumah dan lahan pertanian terendam, memaksa lebih dari 3.500 warga mengungsi. Sementara di Langkat, banjir menyebabkan kerusakan infrastruktur, termasuk robohnya Jembatan Titi Cempedak dan terputusnya jalur Lintas Sumatera.
Kota Sibolga dan daerah sekitarnya juga diterjang banjir bandang yang menimbulkan 15 korban jiwa serta merusak permukiman. Di Sumatera Barat, banjir menewaskan 9 orang dan merusak beragam fasilitas serta rumah penduduk.
---
Jika ingin gaya judul lebih “keras”, lebih “drama”, atau lebih “human interest”, tinggal bilang ya!
Editor : Moch Vikry Romadhoni