Radar Pasuruan - Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala menilai kasus hilangnya anak remaja sering kali melibatkan faktor yang membuat korban mau mengikuti kemauan pelaku, baik secara sadar maupun tidak. Hal ini bisa saja terjadi pada kasus hilangnya Maria Gabriella alias Gaby.
Gaby, siswi SMA Strada St. Thomas Aquino di Kota Tangerang, Banten, dilaporkan hilang sejak Rabu (5/11) dan ditemukan Rabu sore (12/11) di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.
"Kalau (penculikan) terhadap anak usia belasan tentu ada variabel lain seperti pemanfaatan obat, paksaan, atau ancaman," ujar Adrianus saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (13/11).
Hingga kini, polisi belum memastikan penyebab hilangnya Gaby. Aparat masih memeriksa korban untuk menentukan apakah terdapat unsur tindak pidana dalam kasus tersebut.
Menurut Adrianus, seperti dalam kasus penculikan lainnya, anak usia belasan tahun dengan kemampuan berpikir dan pendirian yang sudah terbentuk tetap bisa menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
"Bisa penjualan wanita hingga perdagangan organ," tandasnya.
Dalam laporan polisi, orang tua Gaby menduga bahwa putrinya dibawa kabur oleh seorang pria. Kini, Polres Metro Tangerang Kota (Tangkot) tengah mendalami motif di balik kasus ini.
Meskipun Gaby telah ditemukan di TIM, Cikini, Jakarta Pusat, pada Rabu sore (12/11), penyelidikan tetap berlanjut.
Kasat Reskrim Polres Metro Tangkot Kompol Awaludin Kanur mengatakan pihaknya masih menelusuri motif dan potensi keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut. Laporan yang dibuat keluarga Gaby berkaitan dengan dugaan tindak pidana membawa pergi perempuan di bawah umur tanpa izin orang tua sebagaimana diatur dalam Pasal 332 KUHP.
”Kami akan terus melakukan pemeriksaan dan pengumpulan alat bukti untuk memastikan ada atau tidaknya unsur pidana sesuai Pasal 332 KUHP,” terang Awaludin pada Kamis (13/11).
Editor : Moch Vikry Romadhoni