Radar Pasuruan - Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh asal Jawa Timur, yakni KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Syaikhona Muhammad Kholil, dan Marsinah, disambut positif oleh berbagai kalangan.
Termasuk kalangan serikat pekerja atau buruh. Khususnya terhadap Marsinah dan Gus Dur yang dianggap berjasa besar memperjuangkan kesejahteraan pekerja di Indonesia.
"Alhamdulillah kami bersyukur. Marsinah bagi kami simbol keberanian buruh perempuan," ujar Wakil Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jatim, Nuruddin Hidayat, kepada JawaPos.com, Senin (10/11).
Sementara itu, Gus Dur dinilai memiliki peran penting dalam lahirnya Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja atau Serikat Buruh, yang memudahkan para buruh untuk berserikat dan memperjuangkan hak mereka.
"Dengan adanya UU Nomor 21 tahun 2000, buruh dengan mudah membentuk serikat pekerja/buruh, dan dilindungi keberadaannya untuk membela serta memperjuangkan peningkatan kesejahteraan anggotanya," lanjutnya.
Namun, di sisi lain, para buruh menolak keras gelar Pahlawan Nasional yang juga disematkan kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Menurut Nuruddin, Soeharto tidak layak mendapat gelar tersebut karena masa pemerintahannya dikenal represif terhadap kebebasan buruh.
"Kami tetap menolaknya. Ruang gerak buruh saat pemerintahan Soeharto itu sangat dibatasi, bahkan diberangus. Singkat saja, saya katakan kematian Marsinah itu di rezim Soeharto," tegas Nuruddin.
Serikat pekerja berencana melakukan konsolidasi dengan jaringan lainnya untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan mengajukan gugatan hukum atau melakukan aksi demonstrasi sebagai bentuk penolakan.
Sebagai informasi, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh yang dinilai berjasa besar bagi bangsa dan negara, Senin (10/11).
Acara yang digelar di Istana Merdeka, Jakarta, ini didasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Adapun sepuluh tokoh tersebut adalah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari Jawa Timur, Jenderal Besar TNI (Purn) Soeharto dari Jawa Tengah, dan Marsinah dari Jawa Timur.
Selain itu juga terdapat nama Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat), Hajjah Rahmah El Yunusiyyah (Sumatera Barat), Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Jawa Tengah), Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat), Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan (Jawa Timur), Tuan Rondahaim Saragih (Sumatera Utara), dan Zainal Abidin Syah (Maluku Utara).