Radar Pasuruan - Rahmah El Yunusiyyah, tokoh pendidikan asal Padang Panjang, Sumatera Barat, secara resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Senin (10/11).
Rahmah mendapat penghargaan tersebut atas dedikasinya dalam memperjuangkan pendidikan bagi perempuan.
Ia dikenal sebagai pendiri Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, pesantren khusus perempuan pertama di Asia Tenggara yang menjadi tonggak sejarah kebangkitan pendidikan Islam bagi kaum wanita.
Selain Rahmah, Presiden Prabowo juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sembilan tokoh lain yang dianggap berjasa besar bagi bangsa dan negara.
Penganugerahan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Pemberian gelar tersebut dilakukan bertepatan dengan momentum Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November.
Prabowo pun mengajak seluruh masyarakat untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan dan kehormatan bangsa.
“Marilah kita sejenak mengenang arwah dan jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan, kedaulatan, dan kehormatan bangsa Indonesia, yang telah memberi segala-galanya agar kita bisa hidup dalam alam yang sejahtera,” kata Prabowo saat memimpin hening cipta.
Lantas, siapa sebenarnya Rahmah yang dinilai layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional kali ini? Berikut profilnya.
Jika berbicara mengenai Rahmah El Yunusiyyah, namanya selalu terkait dengan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang yang ia dirikan.
Mengutip dari situs resmi Kemenag, lembaga pendidikan gagasan Rahmah berdiri pada 1 November 1923. Ia mendirikannya sebagai wujud kepedulian dan cita-citanya untuk mengangkat martabat perempuan yang kala itu masih terbatas dalam mengakses pendidikan.
Pada masa itu, Rahmah menentang keras pandangan tradisional yang melarang perempuan menempuh pendidikan. Visi besarnya sederhana namun revolusioner: perempuan harus cerdas agar mampu menjadi pendidik pertama bagi anak dan keluarganya.
Filosofi pendidikannya sangat progresif. Rahmah berkeyakinan bahwa mendidik anak laki-laki berarti mendidik satu orang, sedangkan mendidik anak perempuan berarti mendidik satu keluarga.
Prinsip tersebut menjadi landasan kurikulum Diniyyah Puteri yang menyeimbangkan ilmu agama, keterampilan hidup, dan tanggung jawab sosial.
Tujuannya jelas, yakni mencetak perempuan muslimah yang berilmu, berakhlak, dan mampu berperan bagi masyarakat serta bangsa.
Perjuangan Rahmah tidak berhenti pada bidang pendidikan. Saat revolusi kemerdekaan 1945, ia turut berjuang di garis depan sebagai Bundo Kanduang dalam barisan Sabilillah dan Hizbullah.
Pada masa itu, Perguruan Diniyyah Puteri juga menjadi pusat perjuangan yang mendukung logistik serta pendidikan bagi para pejuang kemerdekaan.
Rahmah menunjukkan sikap anti-kolonial dengan menolak bantuan dana dari pemerintah Hindia Belanda.
Ia ingin lembaganya berdiri secara mandiri tanpa bergantung pada kekuasaan asing. Prinsip “berdikari” yang ia pegang selaras dengan semangat pendidikan nasional seperti Taman Siswa di Yogyakarta.
Kontribusinya pun mendapat pengakuan luas, bahkan hingga ke mancanegara.
Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Dr. Syekh Abdurrahman Taj, mengunjungi Diniyyah Puteri dan terkesan dengan sistem pendidikannya. Rahmah kemudian diundang ke Mesir untuk memaparkan pengalamannya.
Ia menjadi ulama perempuan pertama yang menerima gelar kehormatan Syaikhah dari Universitas Al-Azhar serta menginspirasi lahirnya Kulliyatul Banat, fakultas khusus perempuan di universitas tersebut.
Sampai hari ini, warisan Rahmah masih hidup melalui Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang yang telah berkembang menjadi lembaga pendidikan lengkap, mulai dari PAUD hingga Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT).
Lembaga itu tetap berpegang pada visi awal Rahmah: menjadi pusat pendidikan Islam modern yang melahirkan perempuan berdaya, berilmu, dan berakhlak. Rahmah El Yunusiyyah meninggal dunia pada 26 Februari 1969 di Padang Panjang. Rumahnya kini dijadikan Museum Rahmah El Yunusiyyah sebagai tempat mengenang perjuangannya.
Ia meninggalkan warisan besar berupa gagasan, lembaga, dan semangat pembebasan perempuan melalui pendidikan.
Penetapan Rahmah sebagai Pahlawan Nasional menjadi bentuk penghargaan atas dedikasinya membangun fondasi pendidikan Islam yang inklusif, mandiri, dan visioner.
Baca Juga: Hukuman Vadel Badjideh Diperberat Jadi 12 Tahun, Hakim Sebut Lolly Alami Kerusakan Reproduksi
Editor : Moch Vikry Romadhoni