Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

2 Juta Orang Ziarah ke Makam Gus Dur Tiap Tahun, Keluarga Bangun Pusat Kajian di Jakarta

Moch Vikry Romadhoni • Minggu, 26 Oktober 2025 | 00:09 WIB

 

Momen peletakan batu pertama pembangunan Pusat Kajian Islam Asia Tenggara K.H Abdurrahman Wahid di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10/2025)
Momen peletakan batu pertama pembangunan Pusat Kajian Islam Asia Tenggara K.H Abdurrahman Wahid di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10/2025)

Radar Pasuruan - Antusiasme masyarakat untuk berziarah ke makam Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, terus meningkat. Berdasarkan data keluarga, jumlah peziarah kini mencapai 1,5 hingga 2 juta orang setiap tahunnya.

Setiap hari, sekitar 3.000 hingga 5.000 orang datang ke kompleks makam di Jombang, dan jumlahnya bisa melonjak hingga 15.000 peziarah saat peringatan hari besar keagamaan.

Melihat besarnya ketertarikan masyarakat untuk mengenal sosok Gus Dur lebih dalam, keluarga kini tengah membangun Pusat Kajian Islam Asia Tenggara K.H. Abdurrahman Wahid di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Fasilitas tersebut dirancang sebagai wadah pembelajaran, penelitian, dan refleksi atas pemikiran Gus Dur, terutama terkait Islam di kawasan Asia Tenggara.

“Banyak sekali orang yang datang berziarah karena ingin belajar lebih banyak tentang Gus Dur. Jadi, di pusat kajian ini kami akan menghadirkan semacam museum, diorama, dan video dokumenter kecil agar masyarakat bisa memahami perjuangan dan nilai-nilai yang beliau wariskan,” ujar Alissa Wahid, putri sulung Gus Dur, Sabtu (25/10).

Alissa menjelaskan, pembangunan pusat kajian itu ditargetkan selesai dan dapat beroperasi pada tahun 2026.

Selain menampilkan benda-benda peninggalan Gus Dur, pusat kajian tersebut juga akan menjadi ruang kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk kampus yang memiliki Gus Dur Corner atau pusat studi Gus Dur.

“Kita akan sambungkan dengan berbagai lembaga, seperti kerjasama yang sudah ada dengan Abdul Rahman World Center for Peace and Humanity di UI,” paparnya.

Bangunan pusat kajian ini berdiri di atas lahan seluas 2.000–3.000 meter persegi dan diproyeksikan mampu menampung hingga 2.000 pengunjung sekaligus.

Meskipun akses jalan menuju lokasi masih tergolong sempit, keluarga berharap pemerintah dapat memberikan dukungan dalam pengembangan kawasan tersebut seiring meningkatnya minat masyarakat.

Alissa juga menyebutkan akan dibentuk tim riset khusus yang berfokus pada kajian pemikiran Gus Dur dan Islam di kawasan Asia Tenggara.

“Banyak murid Gus Dur yang kini menjadi peneliti dan akademisi. Mereka akan kita libatkan di sini, termasuk tokoh-tokoh seperti Mas Sastro, Ngatowi, dan Pak Ahmad Suaidi,” tambahnya.

Pusat Kajian Islam Asia Tenggara K.H. Abdurrahman Wahid ini diharapkan menjadi ruang hidup bagi warisan pemikiran Gus Dur  tempat masyarakat terus belajar tentang Islam yang toleran, demokratis, dan berpihak pada kemanusiaan, nilai-nilai yang menjadi fondasi perjuangan Gus Dur sepanjang hayat.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#keluarga gus dur #Bangun #makam #ziarah