Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Pemerintah Siapkan Magang Berbayar untuk 100 Ribu Lulusan S1, Ini Penjelasan Menkeu Purbaya

Moch Vikry Romadhoni • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 00:35 WIB

 

Menkeu Purbaya respons laporan Bank Dunia soal pekerja informal di Indonesia.
Menkeu Purbaya respons laporan Bank Dunia soal pekerja informal di Indonesia.

Radar Pasuruan - Sektor pekerjaan informal di Indonesia belakangan menjadi perhatian serius, termasuk dari Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

Isu mengenai meningkatnya jumlah pekerja informal ini mencuat dari laporan Bank Dunia (World Bank).

Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa banyak anak muda Indonesia kesulitan mendapatkan pekerjaan, sehingga tingkat pengangguran di kalangan muda cukup tinggi.

Menanggapi kondisi itu, Menkeu Purbaya mengimbau para lulusan baru dan pencari kerja agar tidak cemas, sebab pemerintah sedang menyiapkan program magang berbayar.

Purbaya menyatakan dukungannya terhadap program magang berbayar pemerintah yang akan menampung hingga 100 ribu peserta.

Namun, pembukaan kuota dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus 100 ribu.

“Itu (kuota) 20 ribu orang pertama. Nanti kalau keserap, tambah lagi 20 ribu. Kalau keserap lagi, tambah 20 ribu lagi sampai targetnya 100.000. Jadi, nggak usah takut temen-temen yang cari kerja, yang S1, yang sekarang baru lulus,” ujar Menkeu Purbaya di Kantor LPS Jakarta pada Kamis, 9 Oktober 2025.

Ia meyakini, banyak perusahaan yang akan tertarik bergabung karena dapat memanfaatkan tenaga kerja dengan efisien.

“Perusahaan pasti tertarik pakai program itu, pada dasarnya tenaga kerja gratis untuk mereka. Sebenarnya ini untuk melatih tenaga kerja yang baru lulus agar lebih terekspos ke pekerjaan di lapangan,” imbuhnya.

Melalui program ini, menurut Purbaya, para peserta magang bisa memperoleh pengalaman kerja yang berguna untuk melamar pekerjaan selanjutnya.

Terkait pendanaan program, Purbaya menegaskan bahwa penyalurannya akan dilakukan secara bertahap.

“Saya nggak mau kasih banyak-banyak, karena biasanya kebanyakan nanti nganggur duitnya,” terangnya.

Sebelumnya, Purbaya menyebut maraknya pekerjaan di sektor informal disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Akibatnya, tren pekerja informal di Indonesia terus meningkat.

“Kerjaan informal meningkat karena growth-nya lambat kan kemarin-kemarin. Kalau kita ciptakan growth yang lebih cepat, nanti yang informal-informal itu pelan-pelan akan berkurang, masuk ke formal,” kata Purbaya pada wartawan di Jakarta pada Rabu, 8 Oktober 2025.

Saat ini, ia menuturkan bahwa pemerintah sedang berupaya memperbaiki arah pertumbuhan ekonomi agar berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja.

“Kalau pertumbuhan ekonomi penganggurannya gede tapi track recordnya nggak besar, berarti masuk ke informal kan. Itu yang kita ubah kan, karena kadang-kadang income-nya nggak menentu,” imbuhnya.

Dalam laporan World Bank East Asia and The Pacific Economic Update October 2025, disebutkan bahwa kawasan Asia Timur dan Pasifik sedang menghadapi kesulitan menciptakan lapangan kerja.

Bahkan disebutkan bahwa 1 dari 7 pemuda di Indonesia dan China masih menganggur serta sulit mendapatkan pekerjaan.

Laporan itu juga menyoroti masih tingginya proporsi pekerja sektor informal di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Purbaya #menkeu #s1 #lulusan