Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Rp 200 Miliar Digelontorkan untuk Bangun Satu Sekolah Garuda Baru

Moch Vikry Romadhoni • Kamis, 9 Oktober 2025 | 23:47 WIB

 

Foto Ilustrasi - Sekolah Garuda adalah bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Foto Ilustrasi - Sekolah Garuda adalah bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Radar Pasuruan - Pemerintah resmi memperkenalkan 16 lokasi Sekolah Garuda di berbagai daerah Indonesia pada Rabu, 8 Oktober 2025.

Program ini menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemerataan pendidikan unggul di seluruh penjuru Tanah Air.

Meski demikian, publik menyoroti bagaimana Sekolah Garuda nantinya berjalan beriringan dengan Sekolah Rakyat (SR) yang lebih dulu digulirkan pemerintah. Berikut sejumlah perbedaannya:

Menurut Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Fauzan, Sekolah Garuda ditujukan bagi anak-anak dari wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang memiliki kompetensi akademik unggul.

“Kalau Sekolah Garuda itu semangatnya memberikan akses pada anak-anak di daerah 3T yang memiliki kompetensi unggul,” jelas Fauzan saat berada di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, Rabu 8 Oktober 2025.

Karena menargetkan siswa berprestasi, proses seleksi masuk Sekolah Garuda berlangsung ketat bagi lulusan SMP atau sederajat.

Tujuannya, agar sekolah ini benar-benar menjadi pusat pengembangan talenta terbaik dari seluruh pelosok negeri.

Selain fasilitas modern dan kurikulum berbasis data, Sekolah Garuda juga dilengkapi pendekatan ekosistem pembelajaran inklusif, yang memadukan akademik, kepemimpinan, hingga pengabdian masyarakat dalam satu sistem.

Berbeda dengan Sekolah Garuda, Sekolah Rakyat (SR) hadir guna memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bisa menikmati pendidikan bermutu.

“Sekolah Rakyat semangatnya adalah memberikan pendidikan kepada anak-anak yang kurang mampu secara umum,” ungkap Fauzan.

Jika Sekolah Garuda fokus membina potensi unggul di daerah 3T, maka Sekolah Rakyat menekankan pada pemerataan akses, agar semua anak Indonesia tetap mendapat pendidikan tanpa terkecuali.

Dengan begitu, keduanya saling melengkapi: Sekolah Rakyat membuka jalan pemerataan, sedangkan Sekolah Garuda melahirkan bibit unggul bangsa.

Dalam peluncuran perdananya, pemerintah memperkenalkan 16 Sekolah Garuda di berbagai wilayah.

Sebanyak 12 sekolah di antaranya merupakan hasil transformasi, seperti SMAN 10 Fajar Harapan (Aceh), SMA Unggul Del (Sumut), SMA Taruna Nusantara (Jateng), dan SMA Averos Sorong (Papua Barat Daya).

Sementara empat sekolah baru tengah dibangun di Belitung Timur, Timor Tengah Selatan (NTT), Konawe Selatan (Sultra), dan Bulungan (Kaltara).

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyebut pembangunan satu sekolah baru membutuhkan biaya sekitar Rp200 miliar, dengan target empat sekolah bisa beroperasi pada tahun ajaran 2026.

Meski memiliki fokus berbeda, Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat sama-sama berangkat dari visi besar: memberikan kesempatan pendidikan layak untuk semua anak Indonesia.

Sekolah Rakyat memperkuat fondasi akses, sementara Sekolah Garuda menyiapkan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Keduanya menjadi simbol bahwa pemerataan pendidikan bukan hanya tentang membangun sekolah, melainkan juga membangun masa depan bangsa.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#PHTC #Bangun #Sekolah Rakyat #Sekolah Garuda