Radar Pasuruan - Kericuhan di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, meninggalkan kisah memilukan sekaligus heroik. Seorang bocah bernama AD (9), siswa kelas 3 SD, harus berjuang menyelamatkan adiknya AM (8) meski tubuhnya sendiri terluka akibat sabetan senjata tajam.
Tragisnya, ayah mereka tidak bisa diselamatkan dalam insiden berdarah itu.
AD masih mengingat jelas kejadian tersebut. Saat itu ia berada di sekolah ketika para murid diminta berkumpul dan diperlihatkan rumah yang terbakar.
Guru kemudian menyuruh para siswa pulang. Dalam perjalanan pulang bersama ayah dan adiknya, mobil mereka dicegat massa yang mengamuk.
“Bapaku ditembak pakai panah dan dikejar pakai parang. Dia lari sambil minta ampun, bilang ada anak-anak dalam mobil. Tapi tidak dikasih ampun. Saya juga dikejar, ditembak, dan diparang,” kenang AD.
Ia lolos dari maut setelah menggigit tangan salah satu penyerang. Meski sempat pingsan, AD kemudian berhasil menemukan adiknya dalam kondisi lemah. Dengan penuh perjuangan, ia memikul dan menyembunyikan sang adik di semak-semak sebelum mencari bantuan.
“Saya bilang ke orang, ‘tolong adekku dulu Om, dia luka banyak’,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menyebut situasi di Yalimo kini sudah kondusif. Kerusuhan tersebut berawal dari perselisihan kecil antar pelajar yang kemudian meluas.
“Permasalahan awal bukan hal besar, hanya perselisihan siswa. Karena komunikasi kurang tuntas, persoalan berkembang. Saat ini situasi sudah kondusif,” jelasnya.
Ia menegaskan, TNI hanya bertugas membantu kepolisian dan pemerintah daerah sesuai aturan, khususnya dalam operasi selain perang.
Menurut Wahyu, insiden ini menjadi pelajaran penting tentang arti komunikasi serta peran tokoh masyarakat dan agama dalam meredam konflik.
Baca Juga: Ketidakadilan Jalanan Gara-gara Strobo Bisa Turunkan Kepercayaan Publik
Editor : Moch Vikry Romadhoni