Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Ahli BRIN Ungkap Inkonsistensi Iklim: Petani Kini Bingung Atur Tanam dan Pupuk

Moch Vikry Romadhoni • Kamis, 21 Agustus 2025 | 00:12 WIB
Banjir terjadi di satu RT di Kelurahan Joglo, Jakarta Barat dengan ketinggian 65 cm akibat curah hujan tinggi dan luapan Kali Gebyuran, Selasa (12/8).
Banjir terjadi di satu RT di Kelurahan Joglo, Jakarta Barat dengan ketinggian 65 cm akibat curah hujan tinggi dan luapan Kali Gebyuran, Selasa (12/8).

Radar Pasuruan - Ahli klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyoroti anomali cuaca belakangan ini.

Hujan deras yang terjadi beberapa hari terakhir dinilai janggal karena seharusnya masih berada pada musim kemarau. Menurutnya, pola musim kini sudah tidak lagi pakem.

Bahkan, dalam satu tahun terakhir, ia menyebut tidak ada musim kemarau.

Erma menjelaskan, musim kemarau biasanya ditandai dengan curah hujan maksimal 50 mm per dasarian (10 hari) selama tiga dasarian berturut-turut.

Namun faktanya, sempat memang tidak turun hujan 10 hari, tetapi kemudian diguyur hujan deras.

“Maka tidak bisa disebut musim kemarau,” ungkapnya pada 20 Agustus.

Ia menyebut kondisi saat ini lebih tepat disebut kemarau basah. Secara angin sudah masuk kategori angin musim kemarau, tetapi curah hujan masih terus terjadi. Inilah yang disebutnya sebagai inkonsistensi iklim.

Sementara musim hujan diprediksi baru akan datang pada September, kenyataannya hujan sudah banyak terjadi sejak Agustus.

Artinya, kondisi ini bahkan tidak cocok disebut musim pancaroba karena waktunya masih jauh dari prediksi awal.

Erma menegaskan bahwa inkonsistensi iklim harus menjadi perhatian pemerintah, khususnya dalam urusan pangan.

Tahun ini petani tidak bisa menanam jagung sebagaimana biasanya karena tidak ada musim kemarau. Hujan yang terus turun membuat petani kesulitan menyusun jadwal pemupukan.

Karena itu, ia mendorong penerapan smart farming, yaitu pola bertani yang tidak hanya mengandalkan sensor, melainkan juga menyesuaikan dengan kondisi iklim terkini.Prediksi iklim bisa menjadi acuan bagi petani untuk menentukan waktu tanam, pemupukan, hingga pilihan menanam padi sepanjang tahun atau tetap menyelingi dengan palawija.

Baca Juga: Selebgram Lisa Mariana Dipanggil KPK Terkait Kasus Korupsi Bank BJB Rp222 Miliar

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#BRIN #iklim #hujan #petani