Radar Pasuruan - Mahasiswa kerap menghadapi tekanan berat selama studi, bukan hanya dari tuntutan akademik, tapi juga aktivitas media sosial dan persaingan lingkungan yang kompetitif.
Kondisi itu turut mendorong meningkatnya kasus kesehatan mental di kalangan mahasiswa.
Fenomena tersebut menjadi sorotan dalam diskusi sekaligus peluncuran buku panduan Mental Health Champions (MHC) yang digagas Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) di Pusgiwa, Kampus UI Depok.
Program ini menjadi langkah strategis untuk merespons tantangan kesehatan mental yang kian mengkhawatirkan.
Ketua Umum Iluni UI, Didit Ratam, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendukung penanganan kesehatan mental mahasiswa.
"Kami melihat tingginya tingkat masalah kesehatan jiwa di kampus karena tekanan akademis, media sosial, dan lingkungan yang sangat kompetitif," ujarnya (19/8).
Ia menyebutkan, layanan MHC Iluni UI merupakan hasil kerja keras tim yang diharapkan dapat memberi dampak positif jangka panjang bagi mahasiswa.
Direktur Direktorat Alumni UI, Prof. Fentiny Nugroho, menyampaikan apresiasi dari Rektor UI dan menekankan pentingnya program ini.
"Sebuah survei menunjukkan 12,2 persen mahasiswa kami mengalami depresi. Kemudian 37,2 persen mengalami kecemasan," jelasnya.
Menurutnya, layanan MHC sangat relevan untuk membangun suasana kampus yang sehat dan suportif.
Dukungan juga datang dari pemerintah. Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof. Zahrotun Nihayah, memuji inisiatif ini.
"Data nasional menunjukkan 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan jiwa," katanya.
Ia menilai persoalan tersebut adalah isu kolektif sehingga program seperti MHC menjadi langkah penting menciptakan kampus inklusif dan aman.
Peresmian program ditandai dengan penyematan jaket MHC kepada Ketua MHC Iluni UI. Acara juga diisi pembacaan ikrar para Mental Health Champions yang menegaskan komitmen menjaga integritas, berkolaborasi dengan profesional, serta memperhatikan perawatan diri.
Editor : Moch Vikry Romadhoni