Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Fenomena Bendera One Piece Disebut Alarm Sosial! Pemerintah Diminta Jangan Panik

Moch Vikry Romadhoni • Kamis, 7 Agustus 2025 | 02:08 WIB

 

Wamenaker Immanuel Ebenezer Gerungan.
Wamenaker Immanuel Ebenezer Gerungan.

Radar Pasuruan - Fenomena pengibaran bendera One Piece yang mencuat menjelang peringatan HUT ke-80 RI memicu perdebatan di ruang publik. Ada pihak yang menilai aksi ini sebagai bentuk pemberontakan terhadap simbol negara, namun sebagian lainnya menilai sebagai ekspresi budaya populer anak muda masa kini.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer turut buka suara soal fenomena ini. Ia menilai bahwa para pemuda yang mengibarkan simbol bajak laut tersebut bukan sedang menolak Merah Putih, melainkan tengah mencari simbol yang menurut mereka merepresentasikan nilai ideal seperti kebebasan, keadilan, dan solidaritas.

"Ironisnya, tanpa mereka sadari, sosok pemimpin yang mereka miliki saat ini justru memancarkan karakteristik yang serupa dengan tokoh yang mereka kagumi," ujar Immanuel, Rabu (6/8).

Menurutnya, Presiden Prabowo saat ini sedang menjalankan misi untuk membersihkan pemerintahan dari praktik-praktik kotor, memerangi korupsi, dan memperjuangkan keadilan sosial. Nilai-nilai itu, katanya, sejalan dengan semangat yang dihidupkan dalam dunia One Piece.

"Tentu saja, Merah Putih tetap sakral dan tak tergantikan. Ia adalah simbol resmi bangsa serta perekat persatuan. Namun, merespons fenomena ini dengan ketakutan atau cap negatif hanya akan memperlebar jarak antara negara dengan generasi mudanya," tegasnya.

Immanuel menambahkan bahwa pendekatan yang lebih tenang dan penuh pemahaman sangat dibutuhkan. Pemerintah, menurutnya, perlu mendengar terlebih dahulu keresahan anak muda dan mengarahkan semangat itu pada gerakan nasionalisme yang segar dan kreatif.

Ia menilai bahwa anak muda yang mengibarkan bendera One Piece bukanlah anti-pemerintah. Justru, mereka sedang mencari bentuk cinta tanah air yang sesuai dengan cara pandang mereka sendiri. Mereka ingin simbol yang mereka hormati juga mencerminkan isi hati mereka.

"Kalau pemerintah mau mendengarkan, kekecewaan itu bisa diubah menjadi energi positif. Energi inilah yang bisa mendorong agenda besar negara seperti pemberantasan korupsi, penutupan tambang ilegal, pengembalian aset negara dari tangan korporasi, hingga memastikan tak ada rakyat yang kelaparan," ujar Immanuel.

Bagi Immanuel, fenomena bendera One Piece bukanlah ancaman, melainkan alarm sosial. Alarm ini menjadi pengingat penting bahwa nilai keadilan dan kebebasan harus senantiasa hadir dalam setiap kebijakan negara.

Dalam cerita One Piece, perjuangan Luffy baru berakhir ketika dunia menjadi lebih adil. Di dunia nyata, kata Immanuel, tugas Presiden Prabowo dan seluruh elemen bangsa adalah memastikan bahwa Merah Putih tak hanya berkibar di tiang, tapi juga hadir dalam narasi hidup generasi muda yang hari ini memilih menyuarakan isi hati lewat simbol bajak laut.

Lebih jauh, Immanuel menyampaikan bahwa One Piece bukan sekadar kisah bajak laut mencari harta karun. Cerita itu sarat dengan pesan perlawanan terhadap penindasan, keberanian menghadapi ketidakadilan, dan kesetiaan terhadap sahabat.

Tokoh Luffy dan kelompok Topi Jerami, lanjutnya, selalu berdiri bersama rakyat tertindas dan melawan sistem pemerintahan korup serta bangsawan sombong yang kebal hukum.

Narasi semacam ini dianggap sangat dekat dengan keresahan anak muda Indonesia yang lelah dengan ketidakadilan dan mendambakan perubahan nyata. "Kalau dicermati, ada kesamaan antara karakter Luffy dan kebijakan Presiden Prabowo. Contohnya program makan bergizi gratis lahir dari rasa tak tega Prabowo melihat rakyatnya kelaparan—mirip dengan kemarahan Luffy saat melihat penderitaan rakyat," ujar Immanuel.

Ia menutup dengan menyebut bahwa komitmen Presiden Prabowo dalam memberantas korupsi dan menutup tambang liar yang merusak lingkungan sangat selaras dengan semangat dalam One Piece: melawan sistem yang rusak dan membela kaum lemah.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#alarm #bendera #pemerintah #one piece #sosial