Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Ini Pesan Gus Yahya soal Keracunan Makanan Gratis: BGN Punya Standar Nutrisi Sendiri

Moch Vikry Romadhoni • Rabu, 30 Juli 2025 | 02:21 WIB

 

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya usai peletakan batu pertama pembangunan dapur MBG di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Purwakarta, Jawa Barat.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya usai peletakan batu pertama pembangunan dapur MBG di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Purwakarta, Jawa Barat.

Radar Pasuruan - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, meyakini bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) mampu mengatasi kasus dugaan keracunan dari makanan bergizi gratis (MBG) yang sempat ramai diperbincangkan.

Ia menilai BGN memiliki standar nutrisi yang cukup untuk mencukupi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gus Yahya usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan dapur MBG yang merupakan kerja sama antara PBNU dan BGN.

Acara ini berlangsung di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada Selasa (29/7).

"BGN memiliki mekanisme tersendiri dalam menangani persoalan tersebut dan bagaimana menyelesaikannya. Kita bisa lihat bahwa seiring waktu, pengelolaan dapur makin membaik," ujar Gus Yahya saat ditemui di lokasi kegiatan.

Ia pun berharap ke depan tidak ada lagi kejadian serupa. Hal itu, menurutnya, penting demi keberhasilan program prioritas yang diusung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Jadi insya Allah ke depan kita harapkan kasus-kasus yang disebabkan oleh kesalahan bisa semakin menurun hingga tidak terjadi lagi," harap Gus Yahya.

Di sisi lain, Gus Yahya membeberkan temuan mengejutkan mengenai kesehatan santri di beberapa pesantren.

Berdasarkan survei yang dilakukan, ditemukan bahwa 19 persen santri mengalami gejala anemia, meskipun mereka mendapatkan makanan secara rutin.

Menurutnya, persoalan utamanya bukan terletak pada ketersediaan makanan, melainkan kurangnya pengetahuan tentang gizi dalam pengelolaan konsumsi harian di pesantren.

Makanan yang disajikan memang cukup mengenyangkan, namun belum tentu memiliki kandungan gizi yang cukup dan seimbang.

"Namun tanpa pengetahuan nutrisi yang cukup. Dalam salah satu survei yang kami lakukan di beberapa pesantren di Jawa Tengah, ditemukan bahwa 19 persen santri menunjukkan gejala anemia," ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi PBNU. Gus Yahya menilai anemia dapat mengganggu konsentrasi belajar, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi produktivitas santri. Ia menegaskan bahwa makan teratur belum tentu menjamin kesehatan apabila asupan nutrisinya tidak diperhatikan dengan benar.

"Padahal mereka makan dengan teratur, tapi tetap menunjukkan gejala anemia. Itu terjadi karena pemahaman soal gizi masih kurang. Sekadar kenyang saja tidak cukup kalau nutrisinya tidak mencukupi," pungkas Gus Yahya.

 

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#pbnu #gus yahya #Mbg #BGN