Radar Pasuruan - Setelah rangkaian serangan yang mengguncang dunia, Iran akhirnya menyatakan kesiapan untuk kembali membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat (AS).
Namun, tawaran itu datang dengan syarat yang tak bisa ditawar. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan ultimatum tegas bahwa negosiasi hanya bisa dimulai jika AS menghentikan semua aksi militer terhadap negaranya.
Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran pada Sabtu (12/7), Araghchi menegaskan bahwa pemerintah Iran bersedia kembali ke meja perundingan, asal ada jaminan kuat tidak akan ada lagi agresi seperti bulan lalu.
"Yang paling penting, harus ada kepastian bahwa insiden seperti ini tak terjadi lagi. Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran membuat negosiasi semakin rumit," kata Araghchi.
Pernyataan itu disampaikan usai serangan mendadak Israel pada 13 Juni terhadap situs nuklir Iran, termasuk lokasi penting di Natanz, yang kemudian disusul serangan udara AS pada 22 Juni.
Meski serangan tidak sepenuhnya melumpuhkan program nuklir Iran, laporan awal dari Pentagon menyebutkan bahwa kemajuan Iran tertunda beberapa bulan ke depan.
Menanggapi agresi tersebut, Iran langsung menghentikan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Para inspektur IAEA yang bertugas memantau aktivitas nuklir Iran pun ditarik keluar.
Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya hanya untuk kepentingan damai, seperti energi dan medis. Namun, jika tak ada langkah damai dari AS dan sekutunya, situasi rawan pecah menjadi konflik terbuka.
Editor : Moch Vikry Romadhoni