Peluang Damai Muncul Lagi, Tapi Syarat Hamas Jadi Batu Sandungan

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Sabtu, 5 Juli 2025 | 03:37 WIB
Kamp tenda bagi warga Palestina yang mengungsi membentang di antara puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di bagian barat Kota Gaza, Sabtu (21/6/2025).
Kamp tenda bagi warga Palestina yang mengungsi membentang di antara puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di bagian barat Kota Gaza, Sabtu (21/6/2025).

Radar Pasuruan - Upaya mengakhiri perang di Gaza kembali mencuat setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Israel telah menyetujui sejumlah syarat penting untuk melakukan gencatan senjata selama 60 hari.

Namun, klaim tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pemerintah Israel, sehingga menimbulkan tanda tanya besar terkait kepastian inisiatif damai ini.

Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan kesiapan AS untuk bekerja sama dengan semua pihak guna mengakhiri konflik.

Ia mendesak Hamas agar tidak melewatkan kesempatan tersebut, sembari mengingatkan bahwa situasi hanya akan memburuk jika kesepakatan ditolak.

Sementara itu, Hamas menunjukkan sinyal positif untuk menerima proposal perdamaian, asalkan memenuhi tiga syarat utama: penghentian penuh agresi, penarikan pasukan Israel dari Gaza, dan bantuan kemanusiaan mendesak.

Salah satu pejabat Hamas menyebut bahwa kelompoknya ‘serius dan siap’ menindaklanjuti jika syarat itu terpenuhi.

Namun demikian, menurut sumber dari kalangan Palestina yang terlibat dalam negosiasi, usulan ini dinilai tidak jauh berbeda dari proposal pada bulan Juni yang sebelumnya ditolak Hamas.

“Masalah-masalah utama belum diselesaikan,” katanya. Proses negosiasi ini sendiri masih dimediasi oleh Qatar dan Mesir.

Dari dalam Israel, tekanan terhadap pemerintah semakin besar. Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar mengungkap bahwa mayoritas kabinet mendukung kerangka kesepakatan demi pembebasan sandera, meski sikap resmi belum diumumkan.

Saat ini, diperkirakan ada sekitar 50 sandera yang masih ditahan di Gaza, dengan lebih dari 20 orang diyakini masih hidup.

Gelombang protes warga Israel juga terus menekan pemerintahan Netanyahu. Meski banyak warga menginginkan perang dihentikan, tingkat kepercayaan terhadap Perdana Menteri Netanyahu tetap rendah.

Netanyahu sendiri masih mempertahankan sikap keras: perang hanya akan berakhir jika Hamas benar-benar dikalahkan. Belum ada sinyal kuat apakah sikap ini kini mulai berubah.

Di sisi lain, sumber dekat Hamas menyatakan bahwa sejauh ini belum ada proposal baru dari pihak mediator.

Yang ada hanyalah revisi dari skema lama buatan utusan AS, Steve Witkoff. Bahkan, draft terbaru belum mencakup permintaan penting dari Hamas, yakni jaminan penghentian perang secara permanen dan penarikan pasukan Israel ke posisi sebelum 19 Januari.

Trump menyebut dirinya akan bertemu dengan Netanyahu pekan depan dan berjanji akan mengambil sikap tegas. Ia pun optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat.

Namun, tanpa jaminan berakhirnya perang, Hamas khawatir gencatan senjata hanya akan menjadi ‘jeda semu’ sebelum agresi militer dilanjutkan kembali. Permintaan Hamas terkait penarikan pasukan selama gencatan senjata pun belum dipenuhi.

Di tengah itu semua, desakan internasional terhadap gencatan senjata dan distribusi bantuan kemanusiaan penuh terus menguat.

Walau ada secercah harapan, proses perdamaian ini masih dihadang oleh kepentingan politik dan tuntutan masing-masing pihak yang belum menemukan titik temu.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
hamas perang genjatan senjata