Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Bisa Picu Perang Dunia III? Analis Sebut Israel Ingin Gulingkan Rezim Iran

Moch Vikry Romadhoni • Rabu, 25 Juni 2025 | 01:55 WIB

 

Eskalasi saling serang antara Iran dan Israel meningkatkan kekhawatiran pecahnya perang besar di Timur Tengah. (Reuters)
Eskalasi saling serang antara Iran dan Israel meningkatkan kekhawatiran pecahnya perang besar di Timur Tengah. (Reuters)

Radar Pasuruan - Ketegangan di Timur Tengah masih memanas akibat konflik antara Israel dan Iran. Pada Jumat (13/6), Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran, menyasar sekitar 100 titik penting, termasuk fasilitas nuklir, pabrik rudal, serta posisi tokoh militer dan ilmuwan nuklir Iran.

Tak tanggung-tanggung, Israel mengerahkan 200 unit jet tempur dan drone untuk menyerang. Merespons hal itu, Iran langsung meluncurkan lebih dari 100 drone bersenjata dan rudal balistik sebagai aksi balasan.

Adu serangan antara kedua negara tersebut menjadi babak baru dari permusuhan panjang mereka selama lebih dari dua dekade di kawasan Timur Tengah.

Kolonel Dedy Yulianto dari Kementerian Pertahanan RI menyebut, konflik antara kedua negara menjadi salah satu pemicu utama instabilitas kawasan. Apalagi, keduanya telah banyak memakan korban.

Dedy menuturkan, jika konflik ini menyeret negara besar lain—AS dan NATO di kubu Israel, serta Rusia, China, Korea Utara, Pakistan atau negara Islam lainnya di pihak Iran—konflik bisa membesar. Namun, kepastiannya masih belum terlihat jelas.

Ia menilai bahwa konflik ini kemungkinan tidak akan berlangsung lama, sebab masing-masing pihak masih dihantui rasa khawatir dan pertimbangan risiko tinggi.

“Logika perang seringkali menuntun pada asumsi siapa yang menang. Namun jawabannya masih belum bisa dipastikan sampai perang ini betul-betul berakhir,” ungkap Dedy.

Dedy menjelaskan bahwa Israel adalah negara Zionis yang piawai dalam propaganda. Mereka akan memastikan untuk tak terlihat kalah meskipun kenyataannya demikian.

Jika Israel merasa unggul, lanjutnya, maka negara itu akan memanfaatkan momen tersebut untuk menekan negara-negara kecil, terutama di kawasan Timur Tengah.

Berbeda halnya dengan Iran, negara itu menerapkan strategi terselubung. Iran dikenal piawai menggunakan aktor-aktor non-negara atau proxy dalam memainkan pengaruhnya di kawasan.

Menurut Dedy, Iran secara terbuka mungkin terlihat lepas dari permainan, namun kenyataannya negara itu masih memegang kendali lewat jejaring proksinya untuk memperluas pengaruh.

Sementara peluang negosiasi antara kedua negara dinilai sangat kecil. Israel disebut-sebut sengaja memprovokasi agar Amerika Serikat ikut turun tangan dalam konflik dan menyerang Iran secara lebih besar.

Tujuannya, menurut Dedy, bukan hanya menghentikan program nuklir Iran, melainkan juga menggulingkan pemerintahan Iran demi menguasai Palestina sepenuhnya tanpa halangan.

Israel dinilai ingin menciptakan kondisi di mana rakyat Iran sendiri yang menjatuhkan rezim mereka, tanpa harus menanggung beban serangan langsung.

Saat ini, Iran dan Israel sama-sama mempertahankan ambisi, harga diri, dan masa depan mereka di kawasan. Iran pun punya opsi strategis: menyerang, menekan, atau menempuh diplomasi.

Iran bisa menyerang dengan rudal dan drone, atau menekan ekonomi global lewat Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting pasokan minyak dunia.

Namun, menurut Dedy, opsi diplomasi masih menjadi langkah paling rasional yang bisa diambil Iran untuk meredakan situasi.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#iran #perang dunia #Rezim #Israeal