Hingga pertengahan tahun, tercatat sudah ada 168 orang yang menjalani rehabilitasi. Jumlah ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 105 orang.
Sebagian besar dari mereka adalah laki-laki, berasal dari berbagai wilayah, dengan dominasi warga Kabupaten Pasuruan sebanyak 127 orang.
Sementara sisanya, yakni 41 orang, datang dari daerah seperti Probolinggo, Mojokerto, hingga Sidoarjo.
Kepala BNNK Pasuruan, Masduki, menyebut peningkatan jumlah kasus rehabilitasi ini sebagai hal yang positif.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan semakin banyaknya kasus yang berhasil diungkap dan ditangani oleh pihaknya, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap BNNK.
"Angkanya memang tinggi. Tapi ini pertanda baik. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula ditangani. Ini bukti masyarakat percaya," ujarnya.
Masduki juga menyebut banyak pengguna narkotika kurang memahami bahaya barang haram tersebut.
Kebanyakan dari mereka mengenalnya melalui pergaulan dekat dan menjadikannya sebagai bentuk pelarian.
Alasan umum di balik penggunaan narkoba di antaranya karena kurangnya perhatian dari orang tua atau justru tekanan dari lingkungan keluarga.
"Itulah mengapa mereka dari keluarga broken home atau kurang kasih sayang lebih rentan terjerat narkoba," jelas Masduki.
Karena itu, peran keluarga dan orang terdekat sangat penting dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Orang tua, guru, dan saudara memiliki tanggung jawab untuk memberi perhatian agar anak-anak tidak terjerumus ke dalam jeratan narkoba.
Ia menambahkan, proses pemulihan pengguna narkotika tidak mudah dan durasinya bisa berbeda tiap individu. Pihaknya juga kerap dihubungi langsung oleh penyalahguna saat mereka mengalami keinginan untuk menggunakan kembali.
"Sering ada yang telepon kami saat rasa ingin memakai lagi muncul. Semangat untuk sembuh itu sangat menentukan," tutup Masduki.
Editor : Moch Vikry Romadhoni