Pengamat hukum dan politik, Pieter C Zulkifli, memperingatkan bahwa bangsa yang tidak peduli pada kecerdasan dan kesehatan rakyatnya hanya akan menjadi penonton di panggung global. Di saat negara-negara lain fokus mencetak ilmuwan dan memperluas layanan kesehatan, Indonesia justru terjebak dalam polemik subsidi UKT dan pemangkasan beasiswa.
Ia menyoroti kemajuan pesat Tiongkok yang dulunya tertinggal dan miskin, namun kini menjadi kekuatan ekonomi dan politik dunia.
"35 tahun lalu, tak banyak yang memperhatikan Tiongkok. Namun hari ini, negara itu telah menjelma menjadi salah satu kekuatan utama dunia," kata Pieter kepada wartawan, Rabu (18/6).
Menurut Pieter, ketergantungan negara terhadap dunia luar membuktikan bahwa kebangkitan suatu bangsa bukan mitos, selama ada visi jangka panjang dan konsistensi dalam kebijakan.
"Indonesia memiliki kekayaan alam, bonus demografi, dan posisi geografis yang strategis. Namun kita belum bergerak sejauh yang seharusnya," tegasnya.
Pieter menegaskan bahwa negara-negara maju selalu dimulai dari dua pilar utama: pendidikan yang mencerdaskan dan layanan kesehatan yang merata. Tanpa keduanya, pembangunan hanya menciptakan ilusi kemajuan.
Indonesia, lanjutnya, tidak kekurangan teknologi. Jaringan 5G sudah tersedia di banyak tempat, dan masyarakat pelosok sudah akrab dengan gawai. Namun, kemajuan digital tidak serta-merta meningkatkan mutu pendidikan.
Ia menyayangkan bahwa anak-anak kini lebih piawai bermain media sosial daripada membaca buku. Dalam pandangannya, negara harus hadir dalam meningkatkan minat baca masyarakat.
"Ruang kelas yang seharusnya jadi wadah diskusi kini tergantikan oleh debat kosong di kolom komentar medsos," ujarnya.
Pieter juga menyoroti semakin jauhnya akses pendidikan tinggi dari masyarakat umum. UKT di berbagai kampus negeri terus melonjak, sementara anggaran pendidikan dan beasiswa dipangkas.
Kampus, yang semestinya menjadi ruang inklusif bagi siapa saja, perlahan berubah menjadi tempat eksklusif hanya bagi mereka yang mampu secara ekonomi.
"Ironisnya, semangat reformasi di bidang pendidikan dan kesehatan justru dinodai oleh isu-isu seperti perundungan dalam pendidikan kedokteran, intoleransi di kampus, dan diskriminasi dalam layanan kesehatan," tegasnya.
Pieter merasa miris ketika melihat laporan berbagai lembaga internasional yang menunjukkan Indonesia masih tertinggal dalam aspek pendidikan dan kesehatan, bahkan dibanding negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Data ini, menurutnya, harus menjadi alarm bagi para pengambil kebijakan.
Ia pun menyarankan Indonesia meneladani semangat Tiongkok. Bukan untuk menyalin sistemnya, melainkan mengambil pelajaran dari komitmennya.
"Negara yang besar adalah negara yang mencerdaskan dan menyehatkan rakyatnya terlebih dahulu. Dari sanalah, kekuatan sejati suatu bangsa berasal," pungkasnya.
Editor : Moch Vikry Romadhoni