Hingga saat ini, tercatat sekitar 120 laporan keluhan dari jamaah haji yang telah diterima. Umumnya, pengaduan muncul menjelang hingga saat pelaksanaan wukuf di Arafah, Mudzalifah, dan Mina (Armuzna).
Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, menyebutkan salah satu keluhan paling banyak adalah soal layanan transportasi.
Seperti keterlambatan kendaraan jemputan yang membuat jamaah harus menunggu lama sebelum diberangkatkan dari hotel di Makkah menuju Arafah.
Mustolih juga mengungkapkan adanya keluhan soal jamaah yang tidak mendapatkan tenda dan konsumsi di Arafah maupun Mina.
Salah satu yang ramai di media sosial adalah jamaah yang memilih berjalan kaki saat masa Armuzna karena transportasi tak kunjung datang.
Namun, menurut Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, mereka menilai jamaah tersebut tidak sabar menunggu bus.
Setelah masa Armuzna, muncul juga keluhan soal keterlambatan makanan dari BPKH Limited yang datang hingga lima jam atau bahkan basi.
BPKH Limited pun akhirnya meminta maaf dan memberikan uang kompensasi sebesar 10–15 riyal kepada jamaah yang tidak menerima katering dengan layak.
Sebenarnya, kata Mustolih, keluhan sudah mulai bermunculan sejak sebelum keberangkatan jamaah ke Tanah Suci.
Ia mencontohkan adanya masalah visa yang belum keluar sementara anggota rombongan lainnya sudah diberangkatkan lebih dulu ke Arab Saudi.
Banyak pula laporan jamaah yang terpisah dari kelompoknya. Hal ini disebut karena tahun ini Kemenag menggunakan delapan syarikah sekaligus, menyebabkan persoalan koordinasi.
Di sisi lain, Mustolih memberikan apresiasi kepada Menteri Agama Nazaruddin Umar yang telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik atas pelayanan haji tahun ini.
Menurutnya, permintaan maaf itu menunjukkan bahwa Menag tidak menutup mata atas segala kekurangan yang terjadi di lapangan.
"Komnas Haji menghormati sikap ksatria Menag yang secara tulus meminta maaf sebagai bentuk tanggung jawab moral atas pelayanan yang belum memuaskan," ujarnya.
Langkah meminta maaf secara terbuka ini dinilai sangat tepat mengingat Menag juga berperan sebagai Amirul Hajj, yakni pemimpin tertinggi dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia. Seperti diketahui, haji adalah agenda besar tahunan berskala nasional.
Editor : Moch Vikry Romadhoni