BMKG mengidentifikasi lima fenomena atmosfer yang memicu terbentuknya awan hujan di tengah musim kemarau.
Saat ini, BMKG memprediksi musim kemarau akan berlangsung lebih singkat di beberapa daerah, dengan puncaknya tetap diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2025.
Dalam sepekan terakhir, data BMKG mencatat hujan dengan intensitas lebat (50–100 mm per hari) hingga sangat lebat (100–150 mm per hari) masih berlangsung.
Beberapa daerah terdampak hujan sangat lebat di antaranya: Ambon pada 2 Juni (138,1 mm), Kabupaten Kepulauan Tanimbar pada 3 Juni (123,5 mm) dan Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (106,4 mm), serta Kabupaten Maluku Tengah pada 4 Juni (123,6 mm).
Selanjutnya, Kabupaten Ketapang mengalami hujan 125,9 mm pada 6 Juni. Lalu pada 7 Juni, Kabupaten Maluku Tengah (111,1 mm) dan Kota Ambon (138,0 mm). Kemudian 8 Juni, hujan sangat lebat juga terjadi di Kabupaten Sidoarjo (114,0 mm) dan Kabupaten Nganjuk (101,0 mm).
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa meski musim kemarau mulai berlangsung, fenomena atmosfer masih memicu hujan lebat di beberapa wilayah dan akan terus berpengaruh dalam sepekan ke depan.
Ia mengatakan durasi musim kemarau tahun ini lebih pendek di sebagian besar wilayah, meski ada pula daerah yang mengalami musim kemarau lebih lama dari biasanya.
Hujan yang terus turun dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Kelvin, Low Frequency, dan Equatorial Rossby. Selain itu, munculnya bibit siklon tropis 92W serta sirkulasi siklonik meningkatkan potensi terbentuknya awan konvektif di berbagai daerah.
Faktor lain yang mendukung terbentuknya hujan adalah labilitas atmosfer lokal akibat interaksi angin darat dan laut, serta kondisi geografis. Hal ini memperkuat proses konveksi yang menyebabkan hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat, terutama pada siang dan sore hari, disertai petir dan terjadi secara tidak merata.
BMKG mengingatkan bahwa atmosfer sangat dinamis, sehingga masyarakat tetap harus waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi, meskipun wilayah mereka telah memasuki musim kemarau.
BMKG juga memprediksi bahwa indeks Monsun Australia akan menguat dalam sepekan ke depan. Hal ini menandakan masuknya udara kering dari Australia ke Indonesia, yang akan mengurangi curah hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan. Ini juga menjadi indikasi bahwa musim kemarau mulai meluas pada pekan kedua Juni.
Bibit Siklon Tropis 92W berada di perairan barat Filipina, dengan tekanan minimum 1001 hPa dan kecepatan angin maksimum 15 knot. Meski tidak langsung menghantam Indonesia, bibit siklon ini tetap memengaruhi kondisi cuaca di Kalimantan Utara. Selain itu, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat daya Sumatra dan Samudra Pasifik timur laut Papua membentuk area konvergensi yang memanjang hingga wilayah barat daya Sumatra Barat dan sekitar daerah siklonik.
Area konvergensi lain juga terpantau dari perairan barat Aceh ke daratan Aceh, dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Tengah, dari Laut Cina Selatan ke Laut Filipina, dari Sulawesi Selatan ke Sulawesi Tengah, serta di Laut Banda dan Papua Pegunungan. Daerah pertemuan angin (konfluensi) juga tampak di Laut Arafura, Laut Banda, Laut Andaman, Laut Cina Selatan, dan Laut Filipina. Kondisi ini meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan di sekitar bibit siklon tropis, sirkulasi siklonik, serta sepanjang daerah konvergensi dan konfluensi tersebut.
BMKG memprakirakan, pada periode 10–12 Juni 2025, cuaca di Indonesia umumnya akan berawan hingga hujan ringan. Namun, perlu diwaspadai hujan intensitas sedang di sejumlah wilayah.
Sementara itu, Erma Yulihastin dari BRIN menyampaikan bahwa beberapa hari lalu dirinya dihubungi oleh petani garam dari Gresik dan sekitarnya, yang mempertanyakan mengapa hujan masih terus turun padahal sudah memasuki kemarau sejak Mei.
Erma menjelaskan bahwa cuaca sangat penting bagi petani garam karena modal usaha yang besar bisa hilang jika tidak sesuai musim. Ia mengatakan hujan di Jawa Timur kemungkinan masih akan terjadi selama dua hingga tiga hari ke depan, karena adanya pertemuan gelombang Kelvin dan Rossby di wilayah langit Jawa Timur.
Fenomena atmosfer ini turut memicu hujan di Jawa Timur, termasuk sebagian wilayah utara Jawa Tengah. Ditambah lagi, adanya tekanan udara rendah di laut utara Jawa memperkuat curah hujan.
Erma menambahkan bahwa musim kemarau tahun ini tergolong kemarau basah, di mana kondisi kering hanya berlangsung singkat. Ia memprediksi hujan akan kembali turun di paruh kedua Juli. Menurutnya, ini termasuk anomali cuaca, meski tidak disebabkan oleh El Niño maupun La Niña. Ia juga menekankan bahwa kondisi ini turut berdampak pada aktivitas nelayan harian.
Editor : Moch Vikry Romadhoni