Seorang siswa SD di SDN 012 Desa Buluh Rampai, Kecamatan Seberida, Indragiri Hulu, Riau, bernama KB yang duduk di kelas 2, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan oleh kakak kelasnya.
Aksi perundungan yang mengarah pada kematian ini diduga terjadi berulang kali. Korban disebut mengalami bullying karena perbedaan suku dan agama yang memicunya menjadi sasaran.
Ayah korban, Gimson Beni Butarbutar (38), menceritakan bahwa pada Senin (19/5), KB pulang lebih awal menggunakan sepeda. Namun, ban sepedanya sengaja dikempeskan oleh kakak kelasnya. Keesokan harinya, KB kembali pulang lebih cepat dari sekolah.
Ketika ditanya, KB awalnya tidak berkata jujur, mengaku pulang karena ada acara sekolah. Namun setelah ditelusuri, sang ibu menjelaskan bahwa KB sebenarnya pulang karena merasa sakit.
Malam hari, KB mulai mengalami demam tinggi, sakit di bagian pinggang, serta pembengkakan di perut bawah. Gimson lalu bertanya pada salah satu teman KB, Rio, yang mengatakan bahwa korban dipukuli oleh lima kakak kelasnya.
Gimson pun melaporkan kejadian ini ke wali kelas yang menjanjikan akan memanggil orang tua pelaku pada Kamis (22 Mei), tetapi tidak dilaksanakan. Akhirnya, Gimson bertemu kepala sekolah pada Jumat (23 Mei), dan meminta agar dipertemukan dengan pelaku berinisial DR.
DR mengaku hanya meninju dari belakang dan menunjuk pelaku lain berinisial HM sebagai pelaku pemukulan di bagian perut.
Saat Gimson mencoba bertemu orang tua HM, mereka tidak menerima tuduhan tersebut dan menyebut masih ada pelaku lain.
Kondisi KB terus memburuk beberapa hari setelahnya. Ia mengalami muntah darah dan kejang-kejang sebelum akhirnya meninggal dunia pada Senin (26 Mei) pukul 02.10 WIB. Jenazah sempat dibawa ke RSUD Pematang Reba, namun nyawanya tak bisa diselamatkan.
Gimson mengungkapkan bahwa anaknya sudah kerap mengalami perlakuan buruk karena latar belakang suku dan agama yang berbeda. Menurutnya, bullying sudah berlangsung sebelum KB jatuh sakit.
"Seminggu sebelumnya dia sering dibully, disebut-sebut soal suku dan agama. Itu berlangsung sebelum sakit. Ya, mungkin dianggap biasa oleh anak-anak,” ujar Gimson. Namun, puncaknya terjadi saat lima kakak kelasnya memukul hingga menyebabkan kematian.
Kasus ini kini tengah ditangani oleh pihak Kepolisian Resor Indragiri Hulu. Proses autopsi telah dilakukan dan saat ini menunggu hasil akhir untuk memastikan penyebab kematian.
Peristiwa menyedihkan ini mengundang kemarahan publik di media sosial seperti Instagram dan X. Banyak yang geram karena anak usia SD sudah bisa melakukan tindakan bullying berdasarkan isu SARA.
"Anak kecil zaman sekarang sudah paham beda agama? Zaman saya dulu itu bukan bahan obrolan,” komentar akun @om_yuriii.
Ribuan komentar lainnya juga menyerukan agar orang tua pelaku diberi sanksi. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas kematian KB akibat tindakan anak-anak mereka.
“Orang tua harus ajarkan anak toleransi sejak dini. Dunia ini beragam. Anak nggak mungkin sejahat itu kalau bukan karena doktrin sejak kecil,” tulis akun @ivikapoor, turut menyampaikan rasa duka dan keprihatinannya atas tragedi tersebut.
Editor : Moch Vikry Romadhoni