Dalam video yang viral, Gibran tampak dipandu oleh seorang petani ketika mengoperasikan alat tanam padi modern bernama rice transplanter. Ia terlihat melangkah maju ke depan, sehingga muncul dugaan bahwa ia menginjak area yang sudah ditanami.
Aksi ini menarik perhatian warganet dan memicu berbagai tanggapan setelah Gibran membagikan momen tersebut di akun TikTok pribadinya.
Menanggapi viralnya aksi tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan keterangan mengenai penggunaan rice transplanter. Alat ini digunakan untuk mempercepat, merapikan, dan memudahkan proses tanam padi di lahan pertanian.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Publik Kementan, Moch. Arief Cahyono, menjelaskan bahwa rice transplanter dirancang agar proses tanam tidak perlu menginjak sawah.
“Alat ini bisa menanam padi di lahan satu hektare hanya dalam lima jam dengan satu operator,” ujarnya, Kamis (29/5).
Ia membandingkan, metode tanam manual membutuhkan hingga 30 orang dan dua hari kerja untuk lahan serupa.
Karena itu, penggunaan rice transplanter sangat menghemat tenaga, waktu, dan biaya dibandingkan cara tradisional.
Keunggulan lainnya adalah jarak tanam yang seragam, mendukung pertumbuhan yang merata, dan berkontribusi pada peningkatan hasil panen.
Selain itu, alat ini juga ramah lingkungan karena meminimalkan kerusakan lahan akibat pijakan kaki petani saat tanam manual.
Rice transplanter tersedia dalam dua varian: tipe berjalan (walking type) dan tipe dikendarai (riding type). Tipe berjalan dioperasikan dengan mendorong alat dari belakang sambil menanam.
Bibit padi ditempatkan di rak khusus yang mudah diisi ulang selama proses berjalan, jelasnya.
Sementara tipe dikendarai memungkinkan operator duduk dan mengemudi seperti kendaraan, menawarkan kenyamanan lebih saat digunakan.
Kedua jenis ini memiliki efektivitas yang sama dan dapat dipilih sesuai kebutuhan lahan serta kenyamanan pengguna.
Sebagai bagian dari program percepatan mekanisasi pertanian, Wapres Gibran bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman ikut menanam padi menggunakan rice transplanter tipe berjalan dengan sistem tanam Jajar Legowo (Jarwo).
Varietas padi yang digunakan adalah Inpari 32, yang memiliki potensi panen mencapai 8 hingga 8,5 ton per hektare.
Sistem tanam Jarwo mengatur jarak tanam antarbaris dan menyisakan jalur kosong untuk memaksimalkan cahaya dan pertumbuhan tanaman.
“Sistem ini terbukti meningkatkan hasil panen, meminimalkan hama, serta memudahkan pemupukan dan pengendalian penyakit. Inilah metode terbaik untuk budidaya padi,” tutup Arief.
Editor : Moch Vikry Romadhoni