Kondisi ini terjadi lantaran Pemerintah Israel terus melakukan blokade terhadap perbatasan di wilayah pesisir barat Palestina.
Blokade yang diberlakukan telah menghalangi masuknya berbagai bantuan dari komunitas internasional, seperti makanan, air bersih, dan pakaian, selama berbulan-bulan.
Diketahui, pembatasan ketat ini sudah berlangsung sejak awal Maret lalu.
"Selama dua bulan mereka mengalami pemboman tanpa henti, sementara mereka juga tak mendapatkan kebutuhan dasar seperti makanan, layanan, pakaian, dan air yang bisa menyelamatkan nyawa," ujar Catherine Russel, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (13/5).
Di sisi lain, Unit Organisasi PBB yang menangani pangan melaporkan bahwa stok makanan di dapur umum Palestina semakin menipis di tengah gempuran dan blokade Israel yang belum berhenti.
Sementara itu, Direktur Jaringan LSM Palestina, Amjad Shawa, menyatakan bahwa krisis kelaparan akut kian parah karena keterbatasan suplai makanan dan layanan kesehatan yang seharusnya mampu melindungi anak-anak Palestina dari risiko malnutrisi.
"Ada kekhawatiran besar bahwa kita akan melihat banyak korban jiwa dalam beberapa hari ke depan," kata Shawa.
Pejabat Hamas, Abdel Rahman Shadid, juga menegaskan bahwa tindakan Israel itu merupakan bentuk 'senjata perang' terhadap rakyat Palestina.
Ia mengecam keras blokade Israel yang dianggap telah melanggar Konvensi Jenewa keempat.
"Anak-anak meninggal bukan hanya karena bom, tapi karena kekurangan susu," tegasnya.
Editor : Moch Vikry Romadhoni