Perjalanan hidupnya di dunia telah usai dan kini melanjutkan perjalanan di alam lain setelah kematian.
Eddie Nalapraya dikenal sebagai sosok berpengaruh.
Ia berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menjadikan pencak silat dikenal di kancah dunia berkat perjuangan panjangnya selama bertahun-tahun.
Eddie Nalapraya yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta pada era 1980-an, wafat di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta sekitar pukul 09.50 WIB pada usia 93 tahun.
Kini tersisa cerita unik tentang Eddie Nalapraya semasa hidup, yang pernah menyatakan tidak ingin dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta Selatan.
Dalam sebuah kesempatan bersama wartawan senior Panda Nababan di acara pemakaman Ali Moertopo, ia mengeluarkan pernyataan mengejutkan soal penolakannya dimakamkan di TMP Kalibata.
Eddie Nalapraya menolak dimakamkan di sana dengan alasan khawatir tidak bisa beristirahat dengan tenang. Menurutnya, para jenderal yang sudah wafat pun masih suka memerintah.
"Mereka (para jenderal) ini meski sudah meninggal, masih suka perintah-perintah," seloroh Eddie Nalapraya kepada Panda Nababan.
Eddie lahir di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 6 Juni 1931. Ia berasal dari keluarga Betawi sederhana. Kakeknya, Haji Buchori, merupakan pemimpin agama yang disegani di Tanjung Priok pada masa itu.
Saat kecil, ia diasuh oleh kakeknya dan belajar membaca Alquran serta ilmu agama. Selain itu, Eddie juga diperkenalkan dengan seni bela diri pencak silat sebagai sarana melatih fisik dan membentuk etika serta karakter.
Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah pertama di Tasikmalaya, Jawa Barat. Hal itu disebabkan keluarganya pindah ke sana selama masa Revolusi Nasional Indonesia pada tahun 1947.
Karier militernya dimulai sebagai kurir untuk TNI hingga akhirnya menjadi perwira tinggi dan menjadi orang kepercayaan Presiden Soeharto.
Eddie Nalapraya memiliki jasa besar dalam mengenalkan pencak silat ke dunia lewat berbagai ajang.
Ia merupakan pendiri Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) pada tahun 1980 yang berhasil mempersatukan organisasi silat dari negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Berkat inisiasinya, ia pun dipercaya menjadi Presiden Persilat pada era 80-an. Upaya kerasnya membuat pencak silat mulai dipertandingkan di SEA Games pada 1987.
Pada 2008, Eddie Nalapraya menginisiasi kejuaraan pencak silat di Eropa. Ia juga berjasa membawa pencak silat mendapatkan pengakuan UNESCO pada 12 Desember 2019 sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Sebagai penghargaan atas pengabdiannya pada seni bela diri pencak silat, ia diberi gelar kehormatan sebagai Bapak Pencak Silat Dunia.
Eddie pernah menjabat berbagai posisi penting seperti Bintara Detasemen Pertahanan MBAD (1950), anggota Pasukan PBB di Kongo (1960), ajudan Pangdam VI/Siliwangi (1961), Den Kawal Pribadi Presiden (1967), Waassops Kodam V/Jaya (1974), asisten pengamanan Garnizun Ibu Kota (1975), Wakil Gubernur DKI Jakarta (1984-1987), anggota DPA-RI (1998-2003), dan lainnya.
Editor : Moch Vikry Romadhoni