Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Layanan Haji 2025 di Makkah Kini Pakai Sistem Syarikah, Ini Keuntungannya

Moch Vikry Romadhoni • Selasa, 13 Mei 2025 | 01:16 WIB

 

 

Calon jemaah haji Indonesia saat di Bir Ali. Mereka sudah mengenakan kain ihram dari hotel untuk mempercepat proses.
Calon jemaah haji Indonesia saat di Bir Ali. Mereka sudah mengenakan kain ihram dari hotel untuk mempercepat proses.
Radar Pasuruan - Penyelenggaraan ibadah haji 2025 memasuki fase baru. Pemerintah Indonesia melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mulai menerapkan sistem layanan berbasis syarikah secara menyeluruh di Makkah.

Langkah transformasi ini diambil untuk meningkatkan kualitas layanan dan memastikan setiap jemaah haji asal Indonesia mendapatkan pelayanan yang profesional, terstruktur, serta optimal.

“Perubahan sistem ini bertujuan memastikan layanan yang lebih terstruktur, profesional, dan optimal bagi seluruh jemaah haji Indonesia,” kata Ketua PPIH Arab Saudi Muchlis M Hanafi saat konferensi pers di Kantor Daker Makkah, Minggu (11/5) dilansir dari Jawa Pos.

Fenomena kloter campuran masih dijumpai pada penyelenggaraan haji tahun ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti keterlambatan visa, perubahan manifes, serta proses sinkronisasi data, yang mengakibatkan satu kloter terdiri dari jemaah dari lebih dari satu syarikah.

Namun, Muchlis menegaskan bahwa hak-hak layanan jemaah tetap terjamin. “Penempatan hotel di Madinah tetap berdasarkan kloter, meskipun menjadi tantangan dalam mendistribusikan layanan syarikah,” ujarnya.

Di Makkah dan pada fase puncak ibadah haji seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), penempatan jemaah dilakukan sesuai syarikah masing-masing.

Hingga hari ke-10 operasional, seluruh layanan utama, termasuk akomodasi, konsumsi, transportasi, dan distribusi kartu Nusuk, berjalan dengan baik.

Sejak 2022, Pemerintah Arab Saudi memberlakukan sistem berbasis syarikah menggantikan pola lama berbasis wilayah.

Sistem baru ini dinilai lebih efektif dalam mengelola layanan haji karena memungkinkan koordinasi yang lebih baik dan respons yang lebih cepat di lapangan.

“Dengan sistem ini, kami memastikan layanan di Armuzna lebih terorganisasi, mulai dari transportasi hingga akomodasi,” jelas Muchlis.

Pemerintah Indonesia juga terus melakukan penyesuaian secara bertahap untuk mengadopsi sistem ini, dengan tetap mengutamakan kenyamanan serta keselamatan jemaah.

Baca Juga: Ini Pengakuan Suami Jamaah Haji Asal Sidoarjo yang Wafat di Pesawat, Tak Kembali Setelah ke Toilet
Meskipun pembagian dilakukan berdasarkan syarikah, Muchlis menegaskan bahwa hak-hak jemaah tidak mengalami perubahan. Seluruh jemaah tetap mendapatkan layanan akomodasi sesuai kontrak, konsumsi tiga kali sehari, transportasi antarlokasi, dan bimbingan ibadah yang merata.

Seluruh proses layanan juga diawasi secara langsung oleh petugas PPIH di lapangan demi memastikan kualitas serta keadilan pelayanan.

Meskipun jemaah di Makkah dikelompokkan berdasarkan syarikah, skema kepulangan tetap menggunakan format kloter. Hal ini dilakukan agar integrasi data jemaah tetap terjaga dan memberikan kenyamanan serta kekompakan sosial selama perjalanan pulang ke tanah air.

Muchlis menutup pernyataannya dengan mengimbau agar seluruh pihak menjaga komunikasi yang baik dan tidak menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi. “Dengan kerja sama dan kolaborasi, kami yakin penyelenggaraan haji tahun ini akan berlangsung lancar, aman, dan penuh berkah,” pungkasnya.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Syarikah #layanan #haji #makkah