Radar Pasuruan - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa program pendidikan disiplin berbasis barak militer bagi pelajar bermasalah di wilayahnya merupakan langkah terobosan yang harus diuji terlebih dahulu sebelum diterapkan secara nasional.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya bertujuan menegakkan ketertiban, tetapi juga membentuk karakter disiplin pada generasi muda.
“Kami ingin mengajak semua pihak yang bertanggung jawab atas pengembangan dan kedisiplinan anak-anak Indonesia untuk datang langsung ke lokasi mereka belajar. Itu cara terbaik,” ujar Dedi Mulyadi saat bertemu Menteri HAM Natalius Pigai di kantor Kementerian HAM, Jakarta, Kamis (8/5).
Dedi menekankan bahwa menilai program hanya dari kabar luar tidak akan memberikan pemahaman menyeluruh.
Oleh sebab itu, ia mengundang berbagai pihak untuk menyaksikan secara langsung proses pendidikan di barak militer tersebut.
“Kalau hanya menilai dari jarak jauh dan berdasarkan 'katanya', itu tidak akan menyelesaikan apa pun. Lebih baik datang langsung,” ujarnya.
Dedi juga mendorong keterlibatan para ahli, mulai dari psikolog anak, ahli gizi, hingga konselor pendidikan, untuk berpartisipasi menyempurnakan metode pendidikan disiplin ini.
“Kalau punya pakar seperti konselor, psikolog anak, ahli gizi dan lainnya, silakan ajak mereka ke tempat pelatihan. Biar mereka jadi bagian dari penyempurnaan program pendidikan ini,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa program ini akan terus dikembangkan dalam beberapa gelombang tanpa kuota tetap. Setiap pelajar yang mengikuti, berasal dari kesepakatan dengan orang tua.
“Kami tidak menentukan jumlah siswa. Siapa pun yang orang tuanya ingin anaknya dididik melalui pendekatan ini, akan kami terima. Kami akan buat gelombang pertama, kedua, dan seterusnya,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh pelajar yang mengikuti program ini datang atas persetujuan dan pengantaran orang tua, bukan dipaksa.
“Semua anak yang ikut adalah karena diantar oleh orang tuanya. Kami tidak menerima anak tanpa persetujuan orang tua,” tambahnya.
Menanggapi dukungan dari Menteri HAM Natalius Pigai agar program ini diangkat menjadi kebijakan nasional, Dedi menyampaikan terima kasih, namun mengingatkan pentingnya tahapan uji coba terlebih dahulu.
“Saya bersyukur dan berterima kasih. Tapi tentu tidak bisa langsung jadi program nasional. Harus diuji dulu apakah program ini sukses atau tidak,” tegasnya.
Dedi juga menyebut bahwa ke depannya, akan dibentuk sekolah-sekolah khusus pasca pelatihan barak, yang dirancang menyerupai sekolah bagi anak-anak berbakat.
“Nanti setelah pelatihan barak militer, mereka akan melanjutkan ke sekolah khusus yang kami siapkan di tiap kabupaten/kota. Konsepnya mirip sekolah anak berbakat,” pungkasnya.
Editor : Moch Vikry Romadhoni