Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Mabes TNI Tegaskan: 11 Korban Pembantaian OPM di Yahukimo Bukan Anggota TNI-Polri

Moch Vikry Romadhoni • Kamis, 10 April 2025 | 01:44 WIB

 

Kawasan Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Kawasan Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Radar Pasuruan - Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) membantah klaim dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) terkait pembantaian terhadap 11 orang di Yahukimo, Papua Pegunungan. Mereka memastikan bahwa para korban tersebut bukan anggota TNI maupun Polri.

Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen TNI Kristomei Sianturi.

Ia menyatakan bahwa informasi yang disampaikan oleh OPM merupakan bentuk propaganda dan tipu daya yang bertujuan menciptakan kekacauan serta menebar ketakutan di tengah masyarakat.

"Termasuk yang 11 orang ini diklaim sebagai tentara. Tentara itu tercatat namanya, teregister namanya. Hari ini tidak ada satu pun prajurit TNI atau Polri yang gugur di sana. Artinya itu adalah hoax yang disampaikan oleh pihak OPM supaya dia dilepas dari tuduhan pelanggaran HAM," kata Kristomei pada Rabu (9/4).

Berdasarkan informasi yang diperoleh Mabes TNI, 11 korban pembantaian oleh OPM di Yahukimo merupakan warga sipil yang bekerja sebagai pendulang emas.

Mereka bukan anggota militer ataupun kepolisian, seperti yang disampaikan oleh juru bicara OPM, Sebby Sambom.

"Jadi gini, propaganda-propaganda atau istilahnya tipu muslihat itu sudah acapkali sering disampaikan oleh OPM. Seperti yang kemarin misalnya Sebby Sambom bilang bahwa harus ada pengosongan karena kita sudah akan perang. Itu sifatnya intimidasi kepada masyarakat," ungkap Kristomei.

Ia menjelaskan bahwa tujuan propaganda tersebut adalah untuk menakut-nakuti warga agar tidak menjalankan aktivitas harian seperti bekerja, berkebun, atau beraktivitas secara normal.

Kristomei juga menambahkan bahwa OPM kerap menyatakan korban yang mereka bunuh sebagai anggota TNI atau Polri untuk menutupi tindakan pelanggaran hak asasi manusia.

"Supaya dia terlepas dari tuduhan bahwa dia sebagai pelanggar hak asasi manusia. Makanya dia sampaikan itu. Paling gampang, itu tentara katanya. Itu sama kejadiannya dengan penganiayaan dan pembunuhan terhadap guru dan nakes yang lalu," tegas jenderal bintang satu TNI AD tersebut.

 

Ia menegaskan bahwa dalam kasus serupa sebelumnya, korban pembunuhan oleh OPM adalah guru dan tenaga kesehatan yang benar-benar bertugas sebagai tenaga sipil, bukan anggota militer yang menyamar seperti dituduhkan oleh OPM.

Karena itu, Mabes TNI memastikan klaim OPM dalam kasus Yahukimo juga tidak berdasar.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#opm #penembakan #tni #yahukimo