Belakangan ini, film Bidaah ramai dibicarakan, bukan hanya karena alurnya yang mencekam, tapi juga karena karakter Walid—sosok guru agama yang tampak karismatik namun ternyata menyesatkan murid-muridnya.
Ia menggunakan dalil agama untuk membungkus manipulasi dan kepentingan pribadi, menjadikan agama sebagai alat kontrol dan ketakutan. Fenomena seperti ini bukan hanya fiksi, tapi cermin nyata dari apa yang bisa terjadi ketika seseorang belajar agama tanpa mengenali siapa gurunya.
Di tengah banyaknya pengajian daring, ceramah viral, hingga ustaz dadakan di media sosial, kita sebagai umat Islam dituntut untuk lebih bijak dan hati-hati dalam memilih siapa yang layak dijadikan panutan. Jangan sampai semangat belajar agama malah membawa kita ke jalan yang menyimpang, seperti yang terjadi pada para pengikut Walid dalam film tersebut.
Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengenali dan memilih guru agama yang lurus, tidak sesat, dan tetap berpegang pada ajaran Islam yang benar
1. Memiliki Landasan Ilmu yang Jelas dan Terbukti
Pilih guru yang memiliki latar belakang pendidikan agama yang jelas, seperti lulusan pesantren, lembaga keislaman terpercaya, atau universitas Islam yang kredibel. Perhatikan juga siapa gurunya dan dari mana ia belajar. Dalam tradisi Islam, sanad (rantai keilmuan) penting untuk memastikan keabsahan ilmu.
2. Tidak Menyimpang dari Al-Qur'an dan Sunnah
Guru agama yang lurus akan selalu mengacu pada Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih dalam menyampaikan ilmunya. Ia juga tidak membuat-buat tafsir aneh atau menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan ijma’ (kesepakatan ulama).
3. Bersikap Tawadhu dan Tidak Mengkultuskan Diri
Waspadai guru yang seolah menempatkan dirinya sebagai orang paling benar atau meminta untuk ditaati secara mutlak tanpa ruang diskusi. Guru yang amanah biasanya rendah hati dan terbuka terhadap masukan, serta tidak merasa paling suci.
4. Tidak Memecah Umat atau Mengajarkan Kebencian
Guru agama yang lurus akan mendorong persatuan, bukan perpecahan. Ia mengajarkan akhlak mulia, toleransi terhadap perbedaan yang dibenarkan dalam Islam, dan tidak mudah mengkafirkan atau membid’ahkan pihak lain yang masih dalam koridor kebenaran.
5. Diakui oleh Ulama atau Komunitas Islam yang Terpercaya
Perhatikan apakah guru tersebut mendapatkan pengakuan dari ulama lain atau lembaga keislaman resmi yang kredibel. Jika ajarannya ditentang oleh mayoritas ulama atau komunitas Islam moderat, perlu diwaspadai.
6. Akhlaknya Mencerminkan Ilmu yang Diajarkan
Ilmu tanpa akhlak adalah tanda bahwa ilmu tersebut belum meresap. Guru yang benar akan mencerminkan ajaran Islam dalam sikapnya: sabar, lemah lembut, jujur, dan penuh kasih sayang kepada murid-muridnya.
7. Tidak Memanfaatkan Murid untuk Kepentingan Pribadi
Waspadai guru yang mulai memanfaatkan murid secara finansial, emosional, atau politik. Guru yang lurus tidak akan menjadikan murid sebagai alat, melainkan mendidik mereka untuk mandiri secara iman dan pemikiran.
Kesimpulan
Memilih guru agama bukan soal siapa yang paling viral, paling banyak pengikut, atau paling pandai bicara. Ini tentang siapa yang benar-benar menjaga kemurnian ajaran Islam dan membimbing dengan hati yang bersih. Jangan terburu-buru. Teliti, tanya, dan bandingkan dengan sumber-sumber yang sahih.
Editor : Moch Vikry Romadhoni