Radar Pasuruan – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer mengecam aksi teror yang dialami kantor Tempo.
Ia menilai kiriman kepala babi dan bangkai tikus sebagai bentuk ancaman terhadap demokrasi yang tidak boleh dibiarkan.
“Saya mengutuk pelaku teror terhadap Majalah Tempo. Saya tidak pernah setuju cara-cara biadab seperti itu,” ujar Immanuel Ebenezer di Jakarta, Minggu (23/3) dilansir dari Jawa Pos.
Aktivis 98 yang akrab disapa Noel ini menegaskan bahwa pers nasional telah berjuang panjang dalam membangun demokrasi di Indonesia.
Namun, jika dengan perjuangan tersebut mereka masih menjadi sasaran teror, hal itu dinilainya keterlaluan.
“Dalam semua sequence perjuangan demokrasi nasional, pers sebagai Pilar Demokrasi Keempat selalu menjadi katalisator. Maka teror terhadap Majalah Tempo adalah perbuatan biadab,” tegasnya.
Noel juga mendesak Polri segera mengungkap pelaku dengan teknologi face recognition atau pengenalan wajah.
Menurutnya, jika pelaku berhasil diidentifikasi, ia harus diproses secara hukum dan tidak hanya dimaafkan.
“Peristiwa ini sungguh mempermalukan demokrasi Indonesia. Demi penghormatan terhadap demokrasi dan Pasal 28 UUD 1945, pelaku harus ditemukan dan diproses secara hukum,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan Polri dalam mengungkap kasus ini akan menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
“Jika Polri gagal, masyarakat akan kecewa. Tapi jika berhasil, kepercayaan publik terhadap Polri akan semakin kuat,” tandasnya.
Sebelumnya, kantor Tempo dua kali menerima paket teror, yakni kepala babi tanpa telinga pada Rabu (19/3) dan enam bangkai tikus dengan kepala terpenggal pada Sabtu (22/3). Polisi saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan motif di balik aksi tersebut.
Editor : Moch Vikry Romadhoni