Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Tiga Tahun Perang Rusia-Ukraina: Harapan Gencatan Senjata Muncul di Tengah Ketegangan

Moch Vikry Romadhoni • Kamis, 13 Maret 2025 | 01:57 WIB
Delegasi AS dan Ukraina bertemu di Riyadh, Arab Saudi, membahas proposal gencatan senjata.
Delegasi AS dan Ukraina bertemu di Riyadh, Arab Saudi, membahas proposal gencatan senjata.

Radar Pasuruan - Tiga tahun telah berlalu sejak Rusia menginvasi Ukraina, yang mengubah tatanan global secara signifikan. Konflik ini telah menyebabkan banyak korban jiwa dan memicu gelombang besar pengungsi, terutama dari wilayah Ukraina.

Di kancah geopolitik, respons dunia terhadap perang ini beragam.

Negara-negara Barat cenderung mendukung Ukraina, sementara beberapa negara berkembang memilih bersikap netral atau bahkan memihak Rusia, seperti Korea Utara dan Iran.

Dinamika konflik semakin berubah setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS.

Ia menekan Ukraina untuk mencapai kesepakatan damai dengan Rusia dan menghentikan kerja sama militer serta intelijen dengan negara tersebut.

Ketegangan meningkat setelah Trump dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, terlibat perdebatan dalam pertemuan di Gedung Putih bulan lalu.

Namun, peluang perdamaian mulai terlihat. Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan bersedia mempertimbangkan gencatan senjata, yang terlihat dari pertemuan delegasi AS-Rusia di Riyadh, Arab Saudi, pada Februari lalu.

Kini, Ukraina tengah membahas proposal gencatan senjata 30 hari dalam pertemuan dengan AS di Jeddah.

Menurut laporan dari edition.cnn.com, Zelensky telah menerima proposal gencatan senjata selama 30 hari yang diusulkan oleh AS. Kesepakatan ini mencakup penghentian pertempuran di darat, udara, dan laut.

Zelensky menyatakan bahwa gencatan senjata akan diberlakukan jika Rusia juga menyetujuinya. Selain itu, AS berencana melanjutkan kerja sama keamanan dengan Ukraina. Trump sendiri menyambut baik inisiatif ini dan berencana berdiskusi lebih lanjut dengan Putin.

Bagi Kyiv, proposal ini menjadi angin segar setelah hubungan diplomatik yang sempat memanas dengan AS, ditambah situasi di medan perang yang tidak menguntungkan.

Ukraina juga berhasil mencapai kesepakatan eksplorasi mineral langka dengan AS untuk memperkuat sektor ekonomi dan keamanannya. Perjanjian ini juga mencakup pembebasan tawanan perang dari kedua belah pihak, baik dari kalangan militer maupun sipil.

Di sisi lain, Rusia belum memberikan tanggapan resmi terhadap usulan gencatan senjata. Namun, menurut laporan dari nytimes.com pada Desember 2024 lalu, Putin pernah menyatakan bahwa gencatan senjata hanya akan menguntungkan Ukraina dalam memperkuat pasukan mereka. Ia menegaskan bahwa Rusia menginginkan perdamaian yang bersifat jangka panjang, bukan sekadar jeda dalam pertempuran.

Selain itu, kesepakatan mengenai mineral langka juga mencakup sumber daya strategis seperti minyak bumi dan gas alam Ukraina. Perjanjian ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian negara, menjamin kesejahteraan rakyat, serta menciptakan stabilitas jangka panjang.

Meski wacana perdamaian semakin menguat, pertempuran masih terus berlangsung. Berdasarkan laporan dari reuters.com, Ukraina meluncurkan serangan drone besar-besaran ke Moskow dan sekitarnya sebagai balasan atas serangan drone Rusia yang telah menewaskan 14 orang di Ukraina.

Dalam bidang diplomasi, Trump kembali mengundang Zelensky ke Gedung Putih. Undangan tersebut, serta persetujuan proposal gencatan senjata di Arab Saudi, mendapat respons positif dari berbagai negara. Salah satunya adalah Polandia, yang merupakan sekutu setia Ukraina sejak perang pecah pada 2022.

Sebagai negara yang memiliki sejarah panjang konflik dengan Rusia, Polandia telah lama khawatir bahwa perang di Ukraina dapat memicu ketegangan yang lebih besar. Namun, dengan peluang perdamaian yang semakin terbuka, ada harapan bagi seluruh pihak untuk kembali menjalani kehidupan yang damai dan sejahtera.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#rusia #konflik #ukraina #gencatan senjata