Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Tragis! PMI Asal Banten Disiksa di Arab Saudi, Tak Sadar Menelan Jarum Jahit

Moch Vikry Romadhoni • Selasa, 11 Maret 2025 | 01:18 WIB

 

Ilustrasi Penyiksaan PMI.
Ilustrasi Penyiksaan PMI.

Radar Pasuruan - Bukannya meraih kesejahteraan, nasib Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Serang, Banten, bernama Tazrikiyah justru berakhir tragis.

Baru dua bulan bekerja di Arab Saudi, ia mengalami serangkaian penyiksaan hingga tanpa sadar menelan jarum jahit yang akhirnya masuk ke dalam tubuhnya.

Perjalanan Tazrikiyah bermula saat ia diberangkatkan ke Arab Saudi melalui penyalur tenaga kerja (PL) bernama Ibu Yanah dan sponsor Ani/Nasrudin.

Ia ditempatkan sebagai Asisten Rumah Tangga di Riyadh oleh PT. Putra Timur Mandiri (PTM) di Jakarta, yang juga mengurus pemeriksaan kesehatan serta pembuatan paspor.

Pada Agustus 2024, seminggu setelah proses pemberangkatan, Tazrikiyah diterbangkan ke Riyadh melalui Bandara Soekarno-Hatta.

Sesampainya di sana, ia dijemput oleh Syarikah Mahara, perusahaan penempatan tenaga kerja. Namun, dalam waktu singkat, ia mengalami perlakuan kejam di tangan majikannya.

Ketua Umum Federasi Buruh Migran Nusantara (F-BUMINU) SARBUMUSI, Ali Nurdin, mengungkapkan bahwa selama dua bulan bekerja, Tazrikiyah mengalami berbagai bentuk penyiksaan.

Ia dipaksa tidur di luar rumah, rambutnya dipotong secara paksa, bahkan tubuhnya disiram minyak tanah.

Karena terus mengalami kekerasan, kondisi fisiknya semakin memburuk. Ia pun harus menjalani perawatan medis dengan biaya sendiri.

Setelah dikembalikan ke Syarikah Mahara, ia ditempatkan pada majikan kedua selama satu bulan, lalu dipindahkan ke majikan ketiga, yang hanya memperkerjakannya selama tiga hari sebelum mengembalikannya karena kondisinya semakin parah.

“Pada penempatan terakhir di Jeddah, majikan membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan rontgen. Hasilnya menunjukkan ada dua jarum yang bersarang di tubuhnya,” ungkap Ali.

Hal ini juga dibenarkan oleh anggota F-BUMINU SARBUMUSI Banten, Nafiz. “Dia tidak sadar telah menelan satu jarum akibat banyaknya kekerasan yang dialaminya. Namun, yang mengejutkan, hasil rontgen menunjukkan ada dua jarum di dalam perutnya,” ujarnya.

Akibat insiden ini, Tazrikiyah mengalami pendarahan di sekitar saluran pencernaannya.

Sayangnya, rumah sakit di Jeddah menyatakan tidak dapat melakukan operasi untuk mengangkat jarum tersebut. Alhasil, majikan Tazrikiyah mengembalikannya ke Syarikah Mahara dalam kondisi kritis.

Saat ini, Tazrikiyah berada di kantor Syarikah Mahara dan terancam tidak bisa kembali ke Indonesia tanpa membayar uang ganti rugi sebesar 5000 Riyal (Rp20 juta). Selain itu, keluarga juga menuntut pembayaran gaji yang belum diterima sebesar 1500 Riyal.

Menanggapi kejadian ini, Ali Nurdin mendesak pemerintah Indonesia untuk segera bertindak. “KBRI Riyadh harus turun tangan dan memastikan perlindungan serta pendampingan hukum bagi Tazrikiyah. Pemulangannya harus dilakukan tanpa syarat dan tanpa biaya apa pun. Ini adalah tanggung jawab negara!” tegasnya.

Ali juga menuntut investigasi terhadap pihak-pihak terkait, termasuk PT. Putra Timur Mandiri dan Syarikah Mahara. “Semua pihak yang bertanggung jawab atas penderitaan Tazrikiyah harus diadili. Jangan sampai ada impunitas bagi pelaku kekerasan terhadap PMI,” tegasnya.

Ia pun memastikan bahwa organisasinya akan terus mendampingi dan memperjuangkan hak-hak Tazrikiyah hingga ia bisa kembali ke tanah air dengan selamat.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#disiksa #arab saudi #ptm #pmi