Radar Pasuruan - Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan sumber daya manusia (SDM) di bidang teknologi.
Diperkirakan pada tahun 2030, Indonesia akan mengalami kekurangan sekitar 3 juta talenta digital dibandingkan dengan kebutuhan industri.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bonifasius Wahyu Pudjianto, mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, jumlah talenta digital yang tersedia hanya mencapai 6.507.904 orang.
Angka ini masih jauh di bawah kebutuhan yang mencapai 10.731.209 orang.
Jurang ketimpangan ini diprediksi akan terus berlanjut hingga 2030, di mana kebutuhan SDM digital diperkirakan mencapai 12.092.110 orang, sementara ketersediaannya hanya sekitar 9.343.849 orang. “Artinya, masih ada kekurangan sekitar 3 juta talenta digital,” ujarnya dalam peluncuran program Laskar AI, Sabtu (15/2) dilansir dari Jawa Pos .
Sementara itu, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin pesat dan telah diterapkan di berbagai sektor, termasuk kesehatan, e-commerce, keuangan, pendidikan, ketahanan pangan, mobilitas, hingga pengembangan kota cerdas. “AI memiliki potensi besar dalam menjawab tantangan nasional,” tambahnya.
Pentingnya Pengembangan Talenta AI
Bonifasius menekankan bahwa AI menjadi salah satu kunci utama dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen. “Untuk mencapai target itu, teknologi seperti AI sangat dibutuhkan,” katanya.
Untuk mengatasi ketimpangan SDM digital ini, pihaknya terus berkolaborasi dengan sektor swasta dalam mencetak lebih banyak talenta digital. Salah satu inisiatifnya adalah peluncuran program beasiswa Laskar AI yang didukung oleh Lintasarta, Dicoding, dan NVIDIA.
Beasiswa Laskar AI Cetak Talenta Digital
Founder & CEO Dicoding Indonesia, Narendra Wicaksono, mengakui bahwa jumlah talenta digital di Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan industri. Oleh karena itu, program Laskar AI diharapkan dapat menjadi wadah bagi pengembangan SDM berbakat di bidang kecerdasan buatan melalui pelatihan yang terstruktur dan sesuai dengan kebutuhan industri.
President Director & CEO Lintasarta, Bayu Hanantasena, menegaskan bahwa Laskar AI bukan sekadar program pelatihan, tetapi sebuah gerakan strategis untuk mencetak talenta AI berkualitas yang akan menjadi motor penggerak transformasi digital di Indonesia.
Peserta Laskar AI tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis dalam bidang machine learning dan data science, tetapi juga dibekali dengan keterampilan soft skills yang mendukung kesiapan mereka di dunia kerja.
“Kami mencari individu yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga komitmen untuk terus belajar,” ungkap Bayu.
Beasiswa ini ditujukan bagi mahasiswa, dosen, dan profesional dari berbagai daerah di Indonesia yang ingin memperdalam keterampilan AI. Dari total 13.588 pendaftar, hanya 10 persen yang lolos seleksi, yaitu 547 mahasiswa dan 110 dosen serta profesional.
Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi ternama seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), IPB University, Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), Telkom University, dan lainnya.
Menariknya, bagi peserta dari kalangan mahasiswa, program beasiswa Laskar AI ini dapat dikonversi menjadi 20 SKS sesuai kebijakan kampus masing-masing. Selain itu, Lintasarta juga menjanjikan peluang kerja bagi lulusan terbaik dari program ini.
Editor : Moch Vikry Romadhoni